Menristek Hibahkan Mobile Laboratorium PCR ke Pemkot Bogor

Menristek Hibahkan Mobile Laboratorium PCR ke Pemkot Bogor Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menerima bantuan laboratorium PCR mobile bernama Mobile Bio Safety Laboratorium 2 (Mobile BSL-2) dari  Kementerian Riset dan Teknologi. Pemkot Bogor merupakan pemerintah daerah (pemda) pertama yang menerima Mobile Lab BSL tersebut.

Mobile BSL-2 yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam rangka membantu meningkatkan pemeriksaan spesimen Covid-19 di wilayah Kota Bogor.

Baca Juga: UI–BPPT Runners Donasikan Ventilator dan 300 Rapid Test Kit ke RSUI

"Pemerintah Kota Bogor adalah Pemerintah Daerah pertama yang menerima hibah dari kami Kemenristek," kata Menteri Ristek Bambang PS Brodjonegoro di Kantor Walikota Bogor, Senin (11/1/2021).

Bambang mengatakan, fasilitas Mobile BSL-2 ini untuk selalu siap dipastikan jumlah pasokan reagen dan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya tenaga laboratorium ataupun kesehatan agar pengujian dapat berjalan dengan maksimal.

"Kita tidak ingin keterbatasan reagen ini menghambat upaya kita mengendalikan Covid-19, jadi fokus pada bahan, SDM, serta tentu perawatan dari fasilitas ini sendiri. Kami berharap hibah ini bermanfaat bagi Kota Bogor untuk bisa mengendalikan status Covid-19. Apalagi, Kota Bogor dekat Jakarta dan juga menjadi tempat kediaman Bapak Presiden," jelasnya.

Walikota Bogor Bima Arya menambahkan, fasilitas ini dapat membantu Tim Surveilans dalam melakukan 3T dan meningkatkan kapasitas pengujian sampel tes swab di Kota Bogor.

"Kami targetkan 1 kasus positif paling tidak 20 kontak erat terlacak. Artinya, kalau sehari 70 kasus, paling tidak 1.400 orang perlu untuk diswab. Persoalannya pada kapasitas laboratorium kami. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih banyak atas bantuan yang sangat berarti ini," ujar Bima Arya.

Kepala BPPT Hammam Riza mengungkapkan, Mobile BSL-2 ini merupakan versi trailer dan sudah mendapatkan pembaharuan dengan penambahan fasilitas ekstraksi RNA sehingga dapat menggunakan berbagai tipe reagen, ditambah penyempurnaan layout dan peralatan, akurasi data dan sistem keamanan penguji.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini