Mayoritas Portofolio SoftBank Merugi, Investasinya di China Bakal Jadi Penyelamat

Mayoritas Portofolio SoftBank Merugi, Investasinya di China Bakal Jadi Penyelamat Kredit Foto: Softbank.co.jp

Meski SoftBank dianggap merugi karena berinvestasi di sejumlah perusahaan seperti WeWork, Uber, dan Oyo, raksasa investasi itu dinilai sukses di China; karena investasinya di Alibaba.

CEO SoftBank, Masayoshi Son bertaruh 200 juta dolar Amerika Serikat (AS) di Alibaba dan sang pendiri: Jack Ma. Sekitar 20 tahun kemudian, situs e-commerce itu telah tumbuh menjadi raksasa internet dan perusahaan terbesar dunia dengan penilaian 500 miliar dolar AS.

"Investasi SoftBank di Alibaba merupakan salah satu transaksinya yang paling sukses dari segi pengembalian," lapor KrAsia, dikutip Selasa (26/5/2020).

Baca Juga: Sedih! 15 Startup Unicorn Bekingan SoftBank Terancam Bangkrut, Kerugian Capai Rp262 Triliun!

Baca Juga: Perusahaan Malaysia Lirik Operator Seluler Indonesia, Pengamat Beberkan Kandidatnya

Selain di Alibaba, SoftBank juga menyalurkan modal ke sejumlah perusahaan di China lainnya, seperti NetEase (1999), Trip.com (agen perjalanan daring), hingga Kuaidi Dache yang menjadi bagian Didi Chuxing saat ini.

Tak cuma itu, pada 2018 SoftBank menyuntikkan modal ke induk perusahaan TikTok, ByteDance. Beberapa waktu belakangan, ByteDance mencatat, "transaksi pribadi yang telah melampaui 100 miliar dolar."

Baru-baru ini, SoftBank membuat kesepakatan bernilai miliaran dolar dengan Ziroom dan Beike di tengah wabah corona.

Namun, karena mayoritas portofolio SoftBank Vision Fund merugi selama krisis kesehatan global, raksasa investasi itu melaporkan kerugian operasi hingga 13 miliar dolar; 8,9 miliar dolar pada kuartal I 2020, kerugian terbesar sejak listing pada 1994.

Tampaknya, 2020 berpotensi menjadi titik balik penting bagi investasi SoftBank, terlebih di China. Karena, perusahaan itu banyak mendukung banyak unicorn besar, meliputi: SenseTime, Full Truck Alliance, dan ByteDance.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini