Tumbuhkan Bisnis Anda dengan Dukungan Solusi Data Center

WE Online, Jakarta - Ketika teknologi informasi (TI) sudah menjadi salah satu ujung tombak dalam  bersaing, bertumbuh, dan berkembang, sering kali perusahaan dihadapkan pada kebutuhan ruangan data center (pusat data) yang baik sebagai tempat penyimpanan serta pengembangan perangkat teknologi informasi.

Data center dapat dimiliki sendiri atau di-outsourcing. Ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum perusahaan membuat keputusan apakah sebaiknya membangun atau meng-outsourcing data center. Hal ini penting untuk menganalisis semua pilihan guna membuat keputusan yang tepat.

Menurut sumber data dari hasil riset pasar Frost & Sullivan, yakni sebuah konsultan IT terkemuka di Indonesia, beberapa kendala yang dihadapi jika mengoperasikan data center secara in-house, antara lain

1). kesulitan mencari sumber daya yang memadai untuk mengelola data center;

2). kesulitan untuk bisa mengikuti perkembangan kebutuhan perusahaan yang terus meningkat dari waktu ke waktu;

3). kekurangan pemahaman mekanisme pengendalian saat terjadi bencana (disaster recovery);

4). kesulitan mendapatkan jaringan alternatif yang sesuai baik partner maupun kapasitas yang dibutuhkan;

5). kesulitan dalam mengelola multivendor terutama dalam integrasi.

Dari beberapa kendala tersebut, pengguna in-house data center ataupun calon pengguna harus mempertimbangkan hal-hal yang sangat penting jika ingin melakukan outsource data center.

Pertama, yakni mendapatkan service quality yang optimum adalah alasan paling utama, selanjutnya kemampuan mitigasi jika terjadi gangguan atau disaster di samping bisa lebih fokus pada core competencies dan cost saving yang juga menjadi alasan jika outsource harus dilakukan.

Bagi calon pengguna data center, beberapa pilihan tersedia sesuai dengan standar industri yang berlaku di dunia. Dengan menggunakan standar data center oleh Uptime Institute maka fasilitas data center bisa dikategorikan dalam empat level, yaitu tier I, tier II, tier III, dan tier IV yang masing-masing memiliki standard service delivery (uptime%) serta tingkat keandalan yang diharapkan.

Biaya data center akan meningkat secara eksponensial dari tier II menuju tier III dan tier IV untuk memenuhi spesifikasi yang diinginkan yang berimplikasi pada mahalnya tarif yang ditetapkan oleh pengelola data center tier III atau tier IV dibanding tier di bawahnya.

Di Indonesia pengembangan data center berfokus pada tier II dan tier III, tetapi sebagai negara yang sedang berkembang maka pasar data center tier II memiliki attractiveness yang lebih tinggi seperti juga terjadi di industri-industri yang lain seperti telekomunikasi, penerbangan, hingga hotel di mana business model low cost (value) sedang menjadi tren yang menjadi pilihan pasar kompetitif. Premium service hanya menjadi pilihan pada segmen pasar tertentu yang benar-benar membutuhkan.

Setelah sudah menjadi kebutuhan bagi aktivitas organisasi, akhirnya data center juga membutuhkan “dinding baja” untuk mengantisipasi dampak buruk dari bencana yang tidak dapat diduga. Dukungan disaster recovery center (DRC) sebagai area penyimpanan serta pengolahan data dan informasi pada saat terjadi bencana menjadi hal mutlak dimiliki suatu organisasi.

DRC merupakan suatu fasilitas dalam perusahaan yang berfungsi untuk mengambil alih fungsi data center ketika terjadi gangguan serius yang menimpa data center.

Sedangkan, di dunia TI dalam negeri disaster recovery plan (DRP) sudah bukan merupakan hal yang baru. Bahkan, Bank Indonesia (BI) sudah cukup lama mensyaratkan seluruh bank agar memiliki DRP dengan mengimplementasikan data center dan DRC secara benar untuk mendukung operasional bisnis sehari-hari.

Salah satu penyedia pusat data yang memberikan layanan data center dan DRC adalah DC5. DC5 dibangun dengan mengacu pada sertifikasi tier II dengan melakukan beberapa perbaikan pada titik kritikal khususnya ketersediaan power ke rak data center di mana diadopsi pendekatan N+1/2N sehingga tingkat resiliency-nya menjadi lebih tinggi mendekati tier III. DC5 juga dibangun dengan konsep carrier netral di mana hampir semua telco provider akan tersedia di fasilitas DC5 sehingga pelanggan memiliki pilihan yang sesuai dengan kehendaknya.

DC5 juga dibangun dengan pendekatan green karena mengadopsi beberapa konsep dan teknologi yang ramah lingkungan, menggunakan teknologi inverter yang hemat energi, menggunakan lampu berbasis LED, menggunakan kabel dengan teknologi low smoke sehingga jika terbakar mengeluarkan asap yang sedikit sehingga tidak mengganggu pernafasan serta berada di gedung yang memiliki green compliance berteknologi double glass.

DC5 juga pasti memberikan harga yang kompetitif karena berbasis tier-II, tetapi pelanggan bisa menikmati kualitas service yang lebih dari yang seharusnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai DC5, Anda bisa mengeklik tautan berikut www.dc5.co.id.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini