Kolektivitas Masyarakat Perlu Guna Lawan Hoaks Vaksin COVID-19 di 2021

Kolektivitas Masyarakat Perlu Guna Lawan Hoaks Vaksin COVID-19 di 2021 Kredit Foto: Istimewa

Setahun berlalu sejak COVID-19 ditemukan di Indonesia pada 2 Maret 2020. Indonesia pun sudah mulai memasuki vaksinasi yang dimulai pada Januari 2021. Jumlah kasus mulai menunjukkan tren menurun. Namun di sisi lain, virus hoaks masih saja terus berkembang biak dan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat melalui beragam platform.

Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dedy Permadi, mengungkapkan selama 2021 per 3 Maret tercatat 117 hoaks terkait vaksin COVID-19 yang tersebar di 634 postingan di media sosial. Hoaks beredar luas di berbagai platform media sosial dari WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok. Di era digital ini, produksi konten hoaks begitu mudah dan penyebarannya begitu luas di berbagai lapisan masyarakat melalui pesan berantai.

Baca Juga: Facebook 'Juara' Hoaks Terbanyak Vaksinasi Covid-19

Salah satu contoh hoaks terbaru terkait vaksinasi COVID-19 adalah pesan WhatsApp yang menyebut vaksinasi COVID-19 untuk lansia di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PPSDMK) Jakarta bisa langsung didatangi. Disebutkan bahwa lansia hanya perlu membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Dalam pesan itu tertulis "Setiap hari ada, jatahnya 1000 orang/hari. Jadi datang saja go show bawa ktp. Ternyata krn jatah banyak, ktp non dki juga tadi diterima. Ajak ya saudara, teman, tetangga, syarat lansia > th bawa ktp.". Hoaks ini membuat terjadinya antrian di PPSDMK karenamasyarakat ramai-ramai datang tanpa melakukan pendaftaran sebelumnya.

Faktanya, berdasarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan melalui akun resmi Twitter-nya, informasi tersebut tidak benar alias hoaks. Memang ada pelaksanaan vaksinasi lansia di kantor Badan PPSDMK Jakarta, namun hanya untuk mereka yang berdomisili di DKI Jakarta dan sudah mendaftar secara online, bukan go show.

Dalam melawan dan menahan laju hoaks, Kominfo terus berupaya dan bekerja keras dengan semua sumber daya yang dimiliki. “Kominfo telah berkoordinasi dengan pengelola platform media sosial untuk melakukan takedown pada postingan-postingan hoaks tersebut,” jelas Dedy Permadi.

“Namun, upaya menghadapi dan menangani hoaks bukan suatu pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri.”

Serangan hoaks yang massif harus dilawan secara kolektif. “Semuanya perlu saling bahu membahu. Masyarakat bisa turut serta dengan aktif. Jadi kalau dapat informasi yang berasal dari media sosial atau dari grup WhatsApp, jangan langsung percaya. Saring terlebih dulu informasi tersebut, kalau baik dibagikan, namun apabila buruk, tolak dan langsung laporkan ke aduankonten.id," tambah Dedy Permadi.

Kominfo mengajak semua lapisan masyarakat untuk turut serta dalam memerangi hoaks ini. Memutus transmisi penyebaran dan aktif melaporkan ke pihak berwenang. Semua orang juga bisa dengan mudah untuk membuktikan hoaks dengan langkah berikut:

1. Buka http://sd.id/infovaksin lalu klik cek dan buktikan hoaks.

2. Masukkan kata/kalimat yang ingin dicari.

3. Baca penjelasan tentang informasi tersebut setelah itu baru sebarkan berita yang benar.

Selain disiplin protokol kesehatan 3M, perlu untuk selalu disiplin dan waspada atas penyebaran

hoaks di sekitar. Dapatkan informasi dari sumber yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Terkait COVID-19, sumber informasi resmi pemerintah adalah situs covid19.go.id dan akun media sosial lawan covid 19. Informasi valid dan faktual tentang COVID-19 dan vaksinasi COVID19 berdasarkan data dari para ahli di bidangnya. Fakta dan datanya sudah diverifikasi secara ilmiah dan akademis,” jelas Dedy Permadi.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini