Tren Kasus Corona Naik, Manufaktur Indonesia Melambat

Tren Kasus Corona Naik, Manufaktur Indonesia Melambat Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Kinerja manufaktur Indonesia kembali melambat. Berdasarkan hasil survei lembaga riset IHS Markit, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari lalu berada di level 50,9 atau turun dibanding capaian bulan sebelumnya yang di angka 52,2.

Indeks PMI Manufaktur menggambarkan tingkat pembelian industri untuk memproduksi barang. Melalui survei ini, lembaga riset dapat mengetahui tingkat hasil penjualan, upah tenaga kerja, persediaan barang, dan harga sektor manufaktur. Apabila indeks berada di atas 50, berarti sektor yang disurvei mengalami ekspansi. Sementara jika di bawah 50, berarti mengalami kontraksi.

Baca Juga: Prospek Manufaktur Indonesia Terkerek Lewat PP Perindustrian

Direktur Ekonomi IHS Markit, Andrew Harker, mengatakan bahwa jumlah kasus baru Covid-19 yang terus meningkat telah mengganggu operasional manufaktur. Namun demikian, sektor manufaktur masih relatif tangguh pada Februari, hanya mengalami perlambatan pertumbuhan daripada kontraksi langsung dalam output dan pesanan baru.

Sementara itu, pekerjaan terus bergerak mendekati stabil. "Meskipun adanya gangguan yang disebabkan oleh pandemi, optimisme perusahaan terkait perkiraan tahun depan masih tidak berkurang di tengah harapan bahwa pandemi akan segera berakhir," kata Andrew seperti dikutip Warta Ekonomi pada Selasa (2/3/2021).

Menanggapi hasil PMI Manufaktur Indonesia bulan lalu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pihaknya masih bersyukur PMI Februari tetap berada di level ekspansif.

"Kami sangat memberikan apresiasi kepada pelaku industri di Indonesia yang masih terus berjuang dalam menjalankan usahanya di tengah tekanan pandemi saat ini," jelasnya.

Agus pun optimistis. Dengan berbagai kebijakan dan stimulus yang telah diluncurkan pemerintah dalam upaya membangkitkan kembali gairah pelaku usaha dan pemulihan ekonomi nasional, PMI Manufaktur Indonesia bakal terus tembus di level ekspansif.

"PMI Manufaktur Indonesia selama enam bulan ini sudah berturut-turut di level ekspansif. Kami akan terus pertahankan dan tingkatkan," ungkapnya. Apalagi, pemerintah baru saja memberikan insentif fiskal berupa penurunan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk kendaraan bermotor.

"Kebijakan ini tentu akan meningkatkan confidence kepada pelaku industri dan mendorong daya beli masyarakat. Kami yakin PMI bulan berikutnya bisa meningkat, mudah-mudahan bisa di atas indeks 51," pungkasnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini