Dana Beasiswa dari BPDPKS Jadi Wadah Pendidikan Inklusif

Dana Beasiswa dari BPDPKS Jadi Wadah Pendidikan Inklusif Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Dengan potensi yang dimilikinya, kelapa sawit masih terus menjadi "bulan-bulanan" LSM dan negara antisawit melalui berbagai hambatan dagang dan penyebaran isu negatif. Salah satu bentuk black campaign yang dilakukan oleh pihak tersebut adalah eksploitasi pekerja anak (child labor) di industri perkebunan kelapa sawit.

Sejak tahun 2015, isu eksploitasi anak di kebun sawit ini telah dihembuskan oleh media Amerika Serikat: Associated Press (AP News) dan LSM Amnesty International. Dalam laporan dan artikel tersebut dituliskan bahwa jutaan pekerja yang bekerja untuk memproduksi minyak sawit di perkebunan sawit mengalami berbagai bentuk eksploitasi, yakni adanya pekerja anak di bawah umur, perbudakan, dan tuduhan pemerkosaan.

Baca Juga: Kelapa Sawit Layak Jadi Industri Esensial Nasional

Padahal, isu yang disebarkan tersebut tidak sesuai dengan fakta. Masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan masih memegang budaya dan nilai-nilai tradisi lokal seperti pola asuh. Pola asuh yang diterapkan orang tua di pedesaan biasanya dengan mengikutsertakan anak-anak di semua aktivitas. Jika orang tuanya berprofesi sebagai petani sawit atau pekerja di perkebunan sawit, anak-anak akan ikut untuk berkegiatan seperti belajar atau bermain di perkebunan sawit.

"Budaya tersebut merupakan bentuk interaksi sosial dan pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya serta sangat lumrah terjadi di masyarakat pedesaan khususnya bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan perkebunan sawit," seperti dilansir dari laman Palm Oil Indonesia.

Berbanding terbalik dengan isu yang disebarkan, industri sawit justru hadir untuk merangkul anak atau keluarga petani sawit untuk memperoleh Pendidikan tinggi. BPDPKS sebagai pengelola dan penyalur dana sawit memiliki salah satu fungsi utama yaitu pengembangan SDM sawit melalui pendidikan.

Dalam program tersebut, BPDPKS memberikan beasiswa bagi anak petani sawit atau keluarga petani sawit dari jenjang diploma (D1-D4) hingga pasca-sarjana (S2-S3) pada program studi di bidang perkelapasawitan dari mulai agronomi, pemuliaan tanaman, bisnis, hingga hukum. Tujuan program beasiswa ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan teknis, dan manajerial sehingga mampu meyediakan SDM sawit yang unggul dan menguasai teknologi sawit 4.0 dalam rangka mewujudkan industri sawit nasional yang berkelanjutan.

Data BPDPKS mencatat, total dana sawit yang disalurkan untuk program beasiswa selama periode 2016–2020 adalah sebesar Rp140 miliar. Sementara pada tahun 2020, total mahasiswa yang menerima beasiswa tercatat 2.605 orang yang tersebar di enam Lembaga Pendidikan seperti INSTIPER Yogyakarta, Politeknik LPP Yogyakarta, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Politeknik Kampar, STIPAP Medan, dan Institut Teknologi Sains Bandung. Dari program beasiswa tersebut, telah dilahirkan 1.200 mahasiswa lulusan D1 dan 120 mahasiswa lulusan D3.

"Industri sawit tidak mengeksploitasi anak, justru menjadi wadah yang menyediakan pendidikan inklusif bagi anak petani sawit sehingga mereka dapat menjadi SDM yang unggul dan terjamin masa depannya serta diharapakan mampu membawa dirinya dan keluarganya pada taraf hidup yang lebih baik," seperti dilansir dari laman Palm Oil Indonesia.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini