3 Penyebab Kaum Milenial Bersifat Impulsif

3 Penyebab Kaum Milenial Bersifat Impulsif Kredit Foto: Antara/Basri Marzuki

Generasi milenial diharapkan dapat menjadi generasi masa depan yang mampu mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2045 mendatang atau bertepatan dengan momen 100 tahun Indonesia merdeka.

Namun kurangnya kemampuan mengelola keuangan yang baik bisa dibilang menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat generasi milenial untuk bisa membantu Indonesia dalam berkembang mencapai tujuan tersebut.

Baca Juga: Cetak 2,5 Juta Petani Milenial, Kementan Upayakan Satu Data

Sebagaimana diketahui, generasi milenial terkenal sekali akan sifat impulsif. Karakter ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. So, apa saja penyebab generasi milenial memiliki sifat impulsif?

1. Terjebak dengan FOMO

FOMO adalah singkatan dari fear of missing out alias ketakutan akan kehilangan momen-momen tertentu. FOMO sering digunakan oleh para marketer untuk menggaet pembeli dengan menyediakan layanan barang dalam waktu terbatas dan jumlah terbatas. Selain itu, FOMO kerap dikemas dalam program edisi terbatas yang berkolaborasi dengan suatu merek, artis, musisi, atau event tertentu.

Hal ini sering membuat para milenial kalang kabut apalagi kalau menyangkut hal yang mereka sungguh inginkan. Tidak jarang, mereka rela menghabiskan uang tanpa berpikir panjang agar tidak kehilangan barang yang sifatnya terbatas atau eksklusif tersebut.

Padahal, jika dicermati lebih dalam belum tentu mereka benar-benar membutuhkan keberadaan barang itu.

2. Mengobati Kondisi Hati yang Buruk

Kondisi hati yang buruk seringkali membuat generasi milenial tidak berpikir jernih atau menggunakan logika dalam mengambil keputusan.

Contohnya, dalam mengelola uang yang akan dibelajakan, banyak kaum milenial melakukan pembenaran atas kondisi hati mereka yang buruk untuk boros membelanjakan uang di barang, jasa, atau makanan yang tidak terlalu mereka butuhkan.

Yang mereka lakukan hanya sebagai pelampiasan demi mengobati rasa sedih yang dialami. Harapannya, hati mereka bisa terobati. Padahal, benarkah belanja boros merupakan pelipur lara? Apakah juga tidak menganggu kondisi keuangan yang ujungnya kembali membuat suasana hati tidak baik?

3. Tidak Mempunyai Tujuan Keuangan

Karena tidak mempunyai tujuan keuangan yang masuk akal dan mendetail alias tidak mempunyai cara yang realistis untuk mencapai tujuan keuangan mereka maka membicarakan tujuan keuangan seperti hal yang sulit dan terlalu muluk.

Buruknya pandangan ini membuat kaum milenial merasa tidak perlu repot-repot merencanakan keuangan mereka selama masih bekerja dan memiliki penghasilan. Faktor mendasar inilah yang membuat mereka menggunakan uang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka hari ini saja tanpa memikirkan kebutuhan hidup di masa mendatang.

So, semoga bermanfaat sebagai cerminan agar sifat impulsif bisa dihilangkan dan diubah menjadi sesuatu yang lebih baik dalam mengelola keuangan, karena tujuannya untuk para kaum milenial itu sendiri.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini