Mengulik Beda Masker FFP2, N95, dan KN95, dari Tampilan hingga Fungsi

Mengulik Beda Masker FFP2, N95, dan KN95, dari Tampilan hingga Fungsi Kredit Foto: Reuters/Nicholas Pfosi

Dalam proses operasi, dokter harus mengganti masker setidaknya setiap dua jam. Jika masker jenis ini dipakai berulang kali, efektivitasnya akan hilang dengan cepat.

Jika pemakai masker batuk atau bersin, maka sebagian besar tetesan dari mulut dan tenggorokan tersangkut di masker tersebut. Namun, perlindungan ini hanya bekerja jika masker diganti secara teratur dan dibuang secara higienis dan aman.

Selama pandemi, masker berkualitas filtrasi lebih baik telah menjadi standar praktis profesi medis.

Di Uni Eropa, jenis masker ini dibagi menjadi tiga kelas perlindungan FFP (filtering face piece).

FFP1

Meskipun masker dengan tingkat perlindungan FFP1 masih lebih baik daripada masker bedah, masker tersebut tidak menawarkan perlindungan terhadap virus. Masker ini ditujukan bagi tukang kayu, misalnya, yang bekerja dengan gergaji dan sistem ekstraksi vakum. Para pekerja konstruksi memakai masker ini agar tidak menghirup debu.

FFP2/N95/KN95

Masker FFP2 (setara dengan standar internasional lainnya yang dikenal sebagai masker N95, KN95, dan P2) menjadi semakin lazim digunakan untuk perawatan lansia dan panti jompo. Masker ini memberikan tingkat perlindungan tertentu terhadap virus bagi pemakainya, tetapi tidak boleh digunakan saat bersentuhan dengan pasien yang sangat menular.

Pada gelombang pertama virus corona tahun lalu, Robert Koch Institute Jerman mengumumkan bahwa staf medis dapat mengenakan masker FFP2 jika FFP3 tidak tersedia.

FFP3/N99/ EN149/P3

Hanya masker FFP3 (kira-kira setara dengan standar internasional seperti N99, EN149, dan P3) yang secara efektif melindungi pemakainya dari tetesan aerosol, molekul protein, virus, bakteri, jamur dan spora, dan bahkan dari debu yang sangat berbahaya seperti serat asbes. Tidak seperti masker bedah sederhana, masker filter berkualitas tinggi tersebut dapat melindungi pemakainya - termasuk dari patogen yang sangat menular seperti campak atau tuberkulosis.

Masalah penggunaan wajib masker FFP2

Persyaratan hukum memakai masker FFP2 di pasar swalayan atau angkutan umum dapat menyebabkan berbagai macam masalah, baik dalam pelaksanaan maupun pengendaliannya. Meskipun jelas bahwa masker FFP2 memberikan perlindungan lebih baik daripada masker bedah atau kain, masker ini hanya berfungsi secara maksimal jika digunakan dengan benar.

Semua masker semacam itu bisa dibuang. Bahkan jika memungkinkan untuk mensterilkannya dalam oven pada suhu 80 derajat Celcius, masker tersebut hanya dapat digunakan kembali beberapa kali.

Institut Federal Jerman untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (BAUA) misalnya, menekankan bahwa penggunaan kembali dan hanya dapat diindikasikan atau digunakan jika terjadi "kekurangan akut."

Kebanyakan orang mungkin tidak akan membeli masker baru setiap kali mereka bepergian dengan kereta, bus, atau pergi berbelanja - terutama karena harga masker berkualitas sudah mahal lantaran permintaan meningkat dan stok terbatas.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terkini