Getol Blusukan, Pengamat: Aksi Risma Bermakna Ganda

Getol Blusukan, Pengamat: Aksi Risma Bermakna Ganda Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga

Seolah tak peduli apa kata orang, Tri Rismaharini terus melanjutkan aksi blusukan sebagai menteri sosial (mensos). Risma "menyapa" para pengemis dan gelandangan di Ibu Kota Jakarta, menyantuni mereka, sekaligus "memberikan" pekerjaan.

Direktur IndoStrategi Research and Consulting, Arif Nurul Imam, menilai apa yang dilakukan Risma bisa bermakna ganda. Pertama, dia melihatnya sebagai hal positif. Sebab, sebagai menteri baru dengan segudang prestasi mentereng saat menjadi wali kota, tentu Risma tak ingin nilai plus itu hilang saat menyandang posisi mensos.

Baca Juga: Aksi Risma Dihujani Kritik, Elite PDIP: Lihat Surabaya!

"Hal tersebut positif karena pengemis dan gelandangan merupakan ruang lingkup kerja Mensos," kata Arif Nurul Imam kepada SINDOnews, Minggu (24/1/2021).

Namun, di sisi lain, kata Arif, blusukan Risma akan mudah dituduh sebagai pencitraan untuk mengerek elektabilitas. Faktanya, blusukan telah membuahkan hasil politik. Dari Kota Solo, model blusukan Jokowi telah mengantarkannya menjadi presiden, bahkan sampai dua periode.

"Blusukan terbukti ampuh dan efektif digunakan mendongkrak elektabilitas sebagaimana Pak Jokowi menjabat gubernur DKI maupun wali Kota Solo. Karena itu, bagi para pengkritiknya, blusukan Bu Risma dianggap sebagai kepentingan politik praktis belaka," pungkasnya.

Sementara itu, politikus PDIP Andreas Hugo Pareira menilai mereka yang nyinyir terhadap kinerja Risma telah kehilangan ide untuk mengkritik. Mereka yang dituding Hugo di antaranya Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah, Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bukhori Yusuf, dan Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid.

"Bu Risma kerja dan menunjukkan empatinya kepada mereka yang dalam keadaan sulit. Sementara, mereka yang nyinyir karena kehilangan ide untuk mengkritik sehingga yang bisa dilakukan hanyalah nyinyir," ujar Andreas kepada SINDOnews, Minggu (24/1/2021).

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini