Trump Klaim Sejumlah Pencapaian dalam Pidato Terakhirnya, Sesuai dengan Kenyataan?

Trump Klaim Sejumlah Pencapaian dalam Pidato Terakhirnya, Sesuai dengan Kenyataan? Kredit Foto: Antara/REUTERS/Carlos Barria

Saat meninggalkan Gedung Putih sebagai presiden AS, Presiden Trump telah membuat sejumlah klaim tentang pencapaiannya.

Kami telah memeriksa fakta sejumlah klaim yang disampaikannya dalam pidato perpisahan di Pangkalan Udara Andrews di Maryland dan dalam pernyataan video yang dirilis oleh Gedung Putih.

Baca Juga: Sempat Tahan Diri, XI Jinping Akhirnya Beri Perpisahan Resmi buat Trump: Ini Pembebasan Baik!

Dalam pidato publik terakhirnya sebagai presiden, Trump memuji pencapaiannya di bidang militer.

Dia sebelumnya mengatakan sektor militer melemah di bawah mantan presiden Obama.

Benar bahwa pemerintahan Trump telah meningkatkan jumlah anggaran militer.

Namun, tingkat pengeluarannya lebih rendah daripada yang dihabiskan untuk militer selama pemerintahan pertama Obama (2009 hingga 2013), berdasarkan data yang disesuaikan dengan inflasi.

Presiden Trump juga telah mengurangi jumlah pasukan di Afghanistan, Suriah, dan Irak.

Klaim: "Kami memiliki ekonomi terbesar di dunia."

Dalam sambutannya di Pangkalan Udara Andrews, Trump juga mengatakan "kita memiliki ekonomi terbesar di dunia", dan sebelum pandemi jumlahnya "berada pada tingkat yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya".

Ekonomi AS tentu saja berjalan baik dalam pemerintahannya sebelum wabah virus corona pada tahun 2020, tetapi kondisi perekonomian pernah lebih baik dalam periode pemerintahan sebelumnya.

Dalam tiga tahun pertamanya Presiden Trump menjabat, pertumbuhan rata-rata tahunan mencapai sebesar 2,5%.

_116599356_trumpobamausgdp-nc.png

Angka ini sedikit lebih tinggi dari tiga tahun terakhir era Obama.

Namun, ada banyak periode ketika pertumbuhan PDB - nilai barang dan jasa dalam perekonomian - jauh lebih tinggi.

Dan pada tahun 2020, ekonomi mengalami kontraksi terbesar karena pandemi.

Ada kebangkitan sebesar 33% pada kuartal ketiga tahun lalu, rekor peningkatan kuartalan, tetapi hal itu belum bisa membawa aktivitas ekonomi kembali ke tingkat sebelum pandemi.

Presiden Trump juga berkata, "Sekarang pasar saham sebenarnya secara substansial lebih tinggi daripada sebelum pandemi."

Meskipun ada guncangan baru-baru ini, pasar saham telah bangkit kembali ke atas level pra-pandemi.

Klaim: "Ketika bangsa kami dilanda pandemi yang mengerikan, kami memproduksi bukan hanya satu, tetapi dua vaksin dengan kecepatan yang memecahkan rekor."

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah memberikan izin penggunaan darurat untuk dua vaksin Covid-19 - Moderna dan Pfizer/BioNTech.

Program vaksin pemerintah, Operation Warp Speed, memang menyediakan dana untuk pengembangan vaksin Moderna.

Meskipun Pfizer/BioNTech telah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah, Pfizer / BioNTech tidak menerima uang untuk melakukan pengembangan atau pengujian.

Dan meskipun Pfizer adalah perusahaan AS, vaksin khusus ini dikembangkan bersama dengan perusahaan BioNTech yang berbasis di Jerman.

Teknologi berbasis gen mereka yang merupakan kunci untuk membuat vaksin.

Klaim: "Saya sangat bangga menjadi Presiden pertama dalam beberapa dekade yang tidak memulai perang baru."

Ini membutuhkan konteks karena bergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan perang.

AS secara resmi telah memberlakukan deklarasi perang melawan 11 negara dalam lima konflik terpisah. Deklarasi perang resmi terakhir adalah selama Perang Dunia II.

Yang kerap terjadi, AS memasuki konflik menggunakan "otorisasi kekuatan militer" yang diberikan oleh Kongres kepada presiden.

Misalnya, Presiden George W Bush menggunakan otorisasi ini untuk perang Irak tahun 2003.

Dan Presiden Obama meminta persetujuan Kongres untuk campur tangan di Suriah setelah senjata kimia digunakan di sana.

Presiden Trump telah terlibat dalam tindakan militer di luar negeri menggunakan undang-undang yang disahkan oleh pemerintah sebelumnya.

Pada Oktober 2019, ia mengumumkan pembunuhan pemimpin Negara Islam (ISIS) Abu Bakr al-Baghdadi dalam operasi militer, tetapi dia memutuskan untuk tidak memberi tahu para pemimpin Demokrat di Kongres terlebih dulu.

Pada Januari 2020, Presiden Trump memerintahkan serangan udara yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani. Gedung Putih mengutip "otorisasi kekuatan militer" Kongres yang diberikan di bawah pemerintahan Bush sebagai dasar hukumnya

Pemerintahan Trump juga meningkatkan serangan pesawat tak berawak AS di Somalia.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini