Inklusi dan Literasi Perbankan terhadap UMKM di Masa Pandemi

Inklusi dan Literasi Perbankan terhadap UMKM di Masa Pandemi Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Head of Secured Lending Retail & SME Bank Commonwealth Weddy Irsan mengatakan bahwa situasi pandemi Covid-19 saat ini memberikan pukulan berat bagi para pelaku UMKM di antaranya kesulitan mendapatkan bahan baku, kesulitan permodalan, dan lainnya.

Di sisi lain, kinerja UMKM yang kurang begitu baik di masa pandemi bisa mengurangi kepercayaan lembaga keuangan seperti perbankan dalam pengucuran kredit padahal masih banyak UMKM yang belum mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan. Meski demikian, perbankan terus membuka peluang bagi UMKM melalui literasi dan inklusi keuangan.

Pada Juli lalu, Kementerian Koperasi dan UKM melansir bahwa jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64 juta unit usaha atau 99% dari total unit usaha di dalam negeri. Kontribusi UMKM terhadap PDB nasional adalah sekitar 61%. Kementerian Koperasi dan UKM juga menyebutkan bahwa UMKM tersebut tersebar hampir merata di seluruh Tanah Air dengan berbagai macam permasalahan yang dihadapinya, antara lain pembiayaan, kelembagaan, pemasaran, dan pengembangan usaha.

Baca Juga: Bantu UMKM Terdampak Covid-19, Bank Mandiri Telah Salurkan Pembiayaan Rp100,5 Triliun

“Perbankan membuka kesempatan selebar-lebarnya dan kami memberikan solusi bagi UMKM terkait dengan persoalan pembiayaan melalui literasi dan inklusi keuangan. Hal ini harus dijalankan berbarengan agar UMKM bisa mendapatkan pembiayaan dan juga makin berkembang,” ujar Weddy dalam webinar Banking Editors Masterclass (BEM) yang diadakan oleh Bank Commonwealth bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta (13/1/2021).

Di masa pandemi ini, lanjut Weddy, Bank Commonwealth melihat bahwa UMKM terkendala dengan kesulitan distribusi atau penjualan produk, kesulitan mendapatkan bahan baku akibat banyak supplier yang kesulitan dalam memproduksi atau tutup, kesulitan likuiditas dengan modal yang terbatas, hingga mengalami penurunan pendapatan.

Menurut Weddy, sebetulnya UMKM berpeluang menjadi lebih berkembang lagi. Berdasarkan Data Bank Indonesia, pada kuartal II 2020, terjadi peningkatan volume transaksi belanja di e-commerce sebesar 383,5 juta kali. Jumlah tersebut naik 39,05% dibanding dengan kuartal I 2020 sebesar 275,8 juta kali. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan transaksi e-commerce di masa pandemi meningkat sebesar Rp429 triliun sepanjang 2020. Peningkatan ini lebih tinggi dibanding transaksi sebesar Rp205,5 triliun sepanjang 2019.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar UMKM terbuka lebar di e-commerce dan bisnisnya bisa terus berjalan. UMKM harus bisa beradaptasi di sini karena market mulai terbiasa berbelanja secara online dan akan terus dilakukan meski pandemi berakhir,” jelas Weddy.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini