Sukseskan Pembangunan Pertanian, BPPSDMP Fokus Lahirkan Milenial Pertanian Andal

Sukseskan Pembangunan Pertanian, BPPSDMP Fokus Lahirkan Milenial Pertanian Andal Kredit Foto: BPPSDMP

Melambatnya gerak roda perekonomian di Indonesia akibat adanya pandemi Covid-19 di Indonesia memacu langkah kebijakan luar biasa pemerintah untuk penanganan pandemi Covid-19 dan memulihkan perekonomian nasional.

Tahun 2021 menjadi masa yang penting dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional dari dampak pandemi Covid-19, sekaligus menjadi momentum untuk melanjutkan dan memantapkan berbagai reformasi kebijakan untuk mempersiapkan fondasi yang kokoh dalam rangka melaksanakan transformasi ekonomi menuju negara maju.

Baca Juga: Berkat Kontribusi Sawit, Capaian Ekspor Pertanian Makin Tinggi

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa salah satu fokus pembangunan pertanian adalah melahirkan milenial-milenial andal yang mampu menjadi roda penggerak atau garda terdepan pembangunan pertanian di Indonesia. Bahkan, Mentan mengarahkan pada tahun 2021 ini akan ada 1.000 petani milenial yang akan melaksanakan magang di Jepang; 1.000 petani milenial yang akan mengikuti Diklat Kewirausahaan; serta didirikannya Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) di 34 provinsi.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) terus melakukan upaya pemantapan pendidikan vokasi pertanian yang kompetitif, mendukung penumbuhan pengusaha pertanian milenial.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, saat membuka Rapat Koordinasi Teknis Pendidikan Tinggi dan Menengah Vokasi Pertanian di Bogor (13/1/2021) menegaskan, melalui pendidikan vokasi yang dimiliki oleh Kementan, yakni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI), serta Sekolah Menengah Pembangunan Pertanian (SMKPP), Kementan siap untuk mencetak pelaku usaha pertanian yang andal, kreatif, profesional, dan mampu bersaing di dunia internasional.

Dedi Nursyamsi mengatakan, jika pertanian sebuah negara maju, negara tersebut akan ikut maju. "Negara maju yang ada dunia ini seperti Amerika, China, Korea, Jepang bisa menjadi negara maju karena pertaniannya maju dan tangguh. Kalau negara kita mau maju, pertaniannya harus maju," tuturnya.

Untuk memajukan pertanian, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian yang profesional, maju, dan memiliki jiwa entrepreneur tinggi. "SDM pertanian yang maju akan menghasilkan inovasi pertanian yang baik dan menyesuaikan perkembangan, mampu membangun sarana dan prasarana, sistem, serta kebijakan yang mendukung serta menguntungkan  pertanian. Sudah saatnya milenial mengambil peran dalam pembangunan pertanian ini," tegasnya.

Berulang kali Dedi menegaskan bahwa lulusan pendidikan vokasi harus siap menjadi job creator dan job seeker, bukan menambah jumlah penganguran. "Bila ada pengangguran baru, berarti kerja kita gagal. Salah satu bukti pekerjaan kita berhasil dan sukses kalau alumni pendidikan vokasi dapat menjadi qualified job seeker dan job creator."

Tak hanya mengandalkan lulusan pendidikan vokasi, Kementan pun mengupayakan untuk menjaring Duta Petani Milenial (DPM) serta Duta Petania Andalan (DPA) yang akan dilantik Mentan tahun ini untuk melakukan resonansi untuk mengajak saudara/teman/handai tolan mereka untuk terjun menekuni sektor pertanian.

Di hadapan Direktur Politeknik Lingkup Kementan, Kepala SMK PP serta seluruh peserta Rakor Teknis, Dedi kembali mengingatkan arahan Mentan perihal koorporasi yang saat ini sedang dibangun, yakni di Kalteng dan Sumut. Koorporasi di dua provinsi ini harus berhasil karena akan dijadikan acuan atau brancmark untuk koorporasi di provinsi lain.

Koorporasi harus high technology untuk menghasilkan produktivitas tinggi. "Ayo tingkatkan semangat dan peran semua pihak untuk mengembangkan dan membangun pertanian Indonesia," ajak Dedi.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini