Pentingnya Kolaborasi dalam Mempermudah Pembangunan Ekosistem Riset dan Inovasi

Pentingnya Kolaborasi dalam Mempermudah Pembangunan Ekosistem Riset dan Inovasi Kredit Foto: Katadata

Pemerintah menggunakan Konsorsium Riset dan Inovasi Penanganan Covid-19 sebagai sarana kolaborasi kepakaran yang mengoptimalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Dengan adanya konsorsium, Indonesia bakal makin mudah melakukan evaluasi untuk mempersiapkan bekal dalam menghadapi tantangan lain yang tidak terduga (emerging issue).

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, riset dan inovasi akan terus punya peranan besar di masa depan khususnya pada pemulihan pascapandemi.

Baca Juga: Inovasi GeNose, 50 Detik Bisa Deteksi Covid-19

Oleh karenanya, kolaborasi untuk menghasilkan penelitian hingga memastikan manfaatnya sampai ke masyarakat sangat dibutuhkan. Upaya ini dilakukan dengan mengawinkan seluruh peran para aktor seperti pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, balitbangjirap swasta dan pemerintah, dunia industri, hingga organisasi masyarakat sipil (OMS).

"Saya ingin kembali lagi pada konsep triple helix sebagai dasar membangun ekosistem riset dan inovasi di Indonesia," kata Bambang dalam acara Diskusi Kebijakan: Kolaborasi Kepakaran dan Riset Dasar untuk Lompatan Inovasi, pada Selasa (12/1/2021).

Bambang juga meyakini bahwa kolaborasi dengan dunia usaha menjadi prioritas urgensi saat ini. Ia mengatakan, bagaimanapun, dalam ekosistem riset dan inovasi perlu terjadi transformasi dari dominasi peran negara, baik secara sumber daya dan anggaran, ke dominasi peran dunia usaha secara bertahap.

"Kalau triple helix antara pemerintah, peneliti, dan dunia usaha tidak bisa dibangun dengan baik, menurut saya sangat mustahil kita bisa melahirkan ekosistem riset dan inovasi yang kuat. Jadi, kuncinya dari situ," ucapnya.

Ia menambahkan, pada masa pandemi, kolaborasi triple helix antara peneliti, pemerintah dan dunia usaha bisa berjalan lancar. Salah satu contohnya adalah produksi alat tes Covid-19 yang dibuat oleh industri dalam negeri. Padahal, ketika awal pandemi, alat tes Covid-19 masih diimpor.

"Ini menjadi contoh bahwa di masa pandemi, peneliti sudah bisa berkolaborasi dengan dunia usaha yang selama ini lebih memprioritaskan keuntungan dan juga dengan bantuan dari pemerintah," tegasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, menekankan bahwa proses kolaborasi berdasarkan kepakaran akan memudahkan penanganan emerging issue karena dapat diselesaikan dalam waktu cepat.

"Keterwakilan ragam dari perspektif, yaitu kepakaran dan pemangku kepentingan, itu menjadi sangat penting sekali," ungkapnya.

Direktur Tata Ruang dan Penanganan Bencana Bappenas, Sumedi Andono Mulyo, menambahkan hal lain yang masih perlu diperbaiki, yaitu kolaborasi dengan daerah. Sebab, masih ada badan penelitian, pengembangan, pengkajian serta penerapan (balitbangjirap) yang di daerah yang diisi oleh nonpeneliti. Hal ini disebabkan cara kerja yang masih seperti birokrat.

Selain kolaborasi dan pusat keunggulan, pengembangan riset dasar penting dilakukan. Menurut Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia Roby Muhamad, ketika negara mampu mengembangkan riset dasar di beberapa bidang strategis, tantangan yang tidak terduga dapat diprediksi dengan baik.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini