Dokter Rumah Sakit Mayapada Bantah Isu Hoax Galon Guna Ulang Berbahaya

Dokter Rumah Sakit Mayapada Bantah Isu Hoax Galon Guna Ulang Berbahaya Kredit Foto: Garnesia.com

Rumah Sakit Mayapada Kuningan Jakarta membantah bahwa dokter-dokternya pernah menyampaikan ke publik bahwa kemasan makanan dan minuman atau galon yang mengandung Bisphenol A (BPA) sangat berbahaya jika isinya dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama. Hal itu disampaikan melalui bagian media & komunikasi Rumah Sakit Mayapada, Dewi, yang sekaligus menjadi jurubicara para dokter yang diisukan sebagai penyampai galon guna ulang berbahaya.

“Semua yang ditulis di PPT (bahan materi webinar) dan perkataan yang keluar dari dokter kami sudah sesuai kaidah dan tidak pernah menyinggung soal galon guna ulang. Saya juga hadir dalam webinar itu untuk mendampingi dua dokter Mayapada yang menjadi pembicara saat itu. Jadi saya juga dengar talkshow-nya,” ujarnya, Senin (4/1). Baca Juga: Perusahaan Pengelola RS Mayapada yang Dimiliki Dato Sri Tahir Mau Cari Dana Segar dari Pasar Modal

Dia mengakui, dua dokter Rumah Sakit Mayapada hanya memaparkan bahaya dari kandungan BPA apabila terpapar kepada janin dan anak.

“Jadi sama sekali tidak menyinggung mengenai galon guna ulang. Kalau untuk pakar plastik galon-galonan, itu bukan kapasitas dari kami untuk menyampaikan. Di webinar itu dokter hanya memaparkan dampak BPA ke kesehatan atau tumbuh kembang anak dan janin,” ungkapnya. Baca Juga: Tingkatkan Ketahanan Pangan Keluarga di Masa Pandemi, Bisa Lewat Plastik Bekas Lho...

Dia juga mengutarakan bahwa di dalam press release yang dibuat oleh penyelenggara acara saat itu juga sama sekali tidak menyebut-nyebut soal galon. Dewi pun menyebut isi rilis yang disampaikan kepadanya terkait pernyataan dua dokter Rumah Sakit Mayapada dalam acara webinar itu. 

Saat itu, kata Dewi, dr. Daulika Yusna, SpA selaku Dokter Spesialis Anak Neonatologist Rumah sakit Mayapada, mengatakan, “Bagi para ibu yang memiliki anak balita, saya sarankan sebaiknya mulai selektif dalam memilih kemasan makanan dan minuman terutama untuk anak-anak. Mulai dihindari dan dikurangi penggunaan plastik sebisa mungkin. Produk-produk berbahan dasar plastik jika terkena panas atau dicuci berulang kali bisa memicu luruhnya zat kimia berbahaya yang akan mencemari makanan atau minuman anak-anak kita. Oleh karena itu, kita bisa mulai memikirkan alternatif peralatan lain seperti menggunakan bahan kaca, stainless steel atau silicone.” 

Semenetara itu, dr. Darrell Fernando, SpOG selaku Dokter Spesialis Kandungan Rumah Sakit Mayapada menambahkan, “Meski konsumsi BPA dalam dosis tertentu masih aman, namun ada baiknya untuk menghindari bahan-bahan yang mengandung BPA. Dalam kehamilan, BPA dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan dan gangguan pertumbuhan janin. Tak hanya itu, paparan BPA sejak dalam kandungan dikhawatirkan memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak.”

Ketua Dewan Penasehat Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) DR. Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad (K) meminta para dokter agar tidak terlalu cepat meresponi sebuah kasus yang bukan ranahnya.

“Saya jelas mempertanyakan dasar dari para dokter itu membuat pernyataan seperti itu, di mana galon guna ulang itu berbahaya. Nanti kasus ini saya coba bawa ke MKEK untuk dibahas. Sebagai Ketua Dewan Penasehat MKEK saya meminta agar dokter-dokter itu dalam berkomentar harus berbasiskan kepada incidence based,” ujarnya.

Para dokter itu, kata Prijo, juga harus mengikuti regulasi yang sudah dikeluarkan pamerintah. Karena menurutnya,  semua barang yang sudah beredar di Indonesai itu, yang masuk ke mulut, itu regulasinya ada di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).  “Jadi kalau sudah disertifikasi oleh BPOM, ya semestinya sudah aman. Karena itu kan tanggungjawabnya BPOM,” ucapnya. 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa meski mengandung bahan bisphenol-A (BPA), galon guna ulang yang digunakan masyarakat sudah memenuhi syarat ambang batas. Artinya, kemasan air minum galon isi ulang itu aman digunakan dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

“Hasil uji kemasan pangan dari plastik PC, sampai saat ini kadar BPA-nya masih memenuhi syarat ambang batas dan aman untuk digunakan,” ujar Direktur Pengawasan Pangan Risiko Tinggi dan Teknologi Baru BPOM, Ema Setyawati.

Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menegaskan setiap produk air minum dalam kemasan (AMDK) termasuk produk dengan kemasan galon guna ulang PC wajib memiliki Sertifikat SNI dan izin edar dari BPOM. SNI dan Izin Edar dari BPOM ini mempersyaratkan tingkat keamanan pangan dan mutu yang sangat ketat dan komprehensif.

"Dengan demikian, setiap produk yang telah memiliki izin edar dan SNI dipastikan telah aman oleh pemerintah untuk dikonsumsi masyarakat," ujar Ketua Umum Aspadin, Rachmat Hidayat.

Galon guna ulang PC untuk AMDK ini dikatakan Rachmat sudah digunakan di Indonesia dan di berbagai negara lain sejak puluhan tahun yang lalu sesuai dengan peraturan keamanan pangan yang berlaku. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dikatakan Rachmat, informasi yang mendiskreditkan galon guna ulang PC tersebut adalah tidak benar sehingga menyesatkan masyarakat.

"Informasi tentang galon guna ulang PC yang menyesatkan ini sangat merugikan produsen AMDK yang menggunakan galon guna ulang PC serta mendiskreditkan pihak pemerintah yang berwenang memberikan izin dan mengawasi keamanan pangan di Indonesia," tukas Rachmat.

Sebelumnya diberitakan, dokter spesialis anak Neonatologist dari Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Daulika Yusna, mengatakan kemasan makanan dan minuman atau galon yang mengandung BPA sangat berbahaya jika isinya dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama. "Dampak BPA tidak serta merta berefek tetapi berlangsung dalam jangka waktu lama. Contohnya pada gangguan hormon pada anak atau balita yang sedang tumbuh. Gangguan lainnya dapat memicu kanker jika BPA dikonsumsi terus-menerus," kata Daulika dalam acara webinar dengan topik utama “BPA pada kemasan makanan dan minuman” yang diselenggarakan Komunitas Cerdik Sehat Desember lalu.

Di acara serupa, Darrel Fernando yang juga dokter kandungan dari rumah sakit yang sama mengatakan perlu ketelitian dari ibu hamil agar kandungan BPA tidak terpapar ke janin.  "Misalnya kode plastik no 7 (jenis plastik polykarbonat) yang perlu kita perhatikan dalam kemasan makanan kita karena kode plastik no 7 biasanya mengandung BPA," ujarnya. 

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini