Masa-masa Krusial Trump Justru Disebut Pakar sebagai Hal yang Perlu Diwaspadai

Masa-masa Krusial Trump Justru Disebut Pakar sebagai Hal yang Perlu Diwaspadai Kredit Foto: Antara/REUTERS/Carlos Barria

Asisten Direktur Center for International Studies and Area di Northwestern University Danny Postel mengatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat melancarkan serangan sembrono terhadap Iran menjelang akhir masa jabatannya. Hal itu diungkapkan saat Iran memperingati satu tahun tewasnya mantan komandan Pasukan Quds Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Postel mengungkapkan, masa pemerintahan Trump bakal berakhir kurang dari sebulan lagi. Dia yakin, dengan situasi itu, Trump mendapat tekanan dari sekutunya di Timur Tengah, yakni Israel dan Arab Saudi, untuk mengambil tindakan terhadap Iran.

Baca Juga: Ancam Pejabat Georgia, Kegilaan Trump buat Menangkan Pilpres Sulit Dibendung

"Trump adalah 'hewan' yang sangat terluka dan sangat terpojok dalam skenario permainan akhir. Dia punya waktu beberapa pekan lagi, dan kami tahu dia mampu melakukan perilaku yang sangat tidak menentu," kata Postel saat diwawancara Aljazirah akhir pekan lalu.

"Mungkin saja cambuknya yang paling tidak menentu dan paling sembrono belum muncul," ujar Postel menambahkan.

Direktur Future of Iran Initiative di Atlantic Council Barbara Slavin mengatakan ancaman perang yang lebih luas antara Iran dan AS tetap ada. Hal itu karena baik pemerintahan Trump dan Israel mengerahkan lebih banyak aset ke kawasan baru-baru ini.

"Konflik semacam itu akan menjadi klimaks yang mengerikan bagi kebijakan 'tekanan maksimum' AS yang gagal, yang membuat AS menarik diri secara sepihak dari JCPOA pada 2018, sementara Iran sepenuhnya patuh," kata Slavin.

JCPOA adalah singkatan dari Joint Comprehensive Plan of Action. Ia merupakan nama lain dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015. Slavin mengatakan ada jendela untuk diplomasi menjelang pemilihan presiden Iran pada Juni mendatang.

"AS dan Israel tidak dapat membunuh jalan mereka menuju non-proliferasi Iran atau mencapai tujuan itu melalui serangan dunia maya. Hanya diplomasi yang terbukti efektif dalam menghambat aktivitas nuklir Iran. Itu adalah satu-satunya cara yang masuk akal untuk maju," kata Slavin.

Sementara itu Postel membuat perbandingan antara hari-hari terakhir antara pemerintahan Trump dan hari-hari mantan presiden AS George W. Bush pada 2008 sebelum pelantikan Barack Obama. Kala itu, Israel dan Arab Saudi sama-sama memancing aksi militer terhadap Iran.

"Ada intensifikasi yang sangat mirip - paling tidak - retorika yang menggetarkan dan agresif yang datang dari pemerintahan Bush," ujarnya.

Postel mengatakan siapa yang berkuasa di AS dan Iran memiliki dampak kritis terhadap prospek diplomasi. Misalnya, kesepakatan nuklir Iran dicapai ketika Obama dan Rouhani sedang menjabat. Keduanya menyukai keterlibatan internasional.

Dia berpendapat bahwa kelompok garis keras Iran mungkin siap untuk mengalahkan Rouhani dalam pemilihan berikutnya. Hal itu membuat momen saat ini , dengan presiden terpilih AS Joe Biden akan segera menjabat, menjadi lebih penting.

"Saya pikir ini adalah momen yang sangat kritis dalam hubungan AS-Iran di mana mungkin ada peluang untuk menghapus perang dari persamaan dan menemukan solusi diplomatik untuk setidaknya masalah inti program nuklir Iran ini," katanya.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini