Epidemiolog: Habis Liburan Panjang, Wisatawan Mesti Lakukan Karantina Mandiri

Epidemiolog: Habis Liburan Panjang, Wisatawan Mesti Lakukan Karantina Mandiri Kredit Foto: Antara/Umarul Faruq

Kebijakan pemerintah yang mewajibkan masyarakat melampirkan surat keterangan rapid test antigen tidak berjalan terlalu efektif, menurut Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.

Ia menilai, semua penanganan COVID-19 di masa liburan Nataru mesti konsisten dan berkomitmen supaya efektif. Bahkan, bagi para warga yang telah melaksanakan libur panjang, seharusnya diwajibkan melakukan karantina mandiri terlebih dulu sebelum melanjutkan aktivitasnya.

"Walaupun ada kebijakan pemeriksaan rapid test antigen ya, kalau itu tidak dilakukan dengan konsisten dan komitmennya jelas, ya tidak efektif juga. Itu harus disertai karantina. Contoh pada saat ini yang pulang mudik, atau yang berlibur ini mereka harus dipastikan tujuh hari setidaknya diam di rumah," katanya ketika dihubungi, Sabtu (2/1/2021).

Baca Juga: 5 Fakta Bansos 2021, Ini Waktu Penyalurannya!

Bahkan, perusahaan-perusahaan seharusnya menerapkan sistem bekerja dari rumah atau work from home. Batas waktunya, sambung Dicky, tidak ditentukan sampai dinilai pandemi Covid-19 sudah terkendali.

"Nah, WFH itu juga harus dilakukan. WFH ini kondisi yang harus dilakukan setidaknya sampai situasi pandemi terkendali, yang saat ini masih tidak terkendali," tuturnya.

Dia pun menjelaskan, niat pemerintah untuk mengendalikan pandemi COVID-19 nampaknya belum bersinergi secara efektif. Salah satunya, kata dia, terbukti dari adanya pemberian diskon-diskon yang berkaitan dengan pariwisata.

"Terjadinya masyarakat berlibur atau keramaian ini menunjukkan strateginya belum bersinergi antara kemauan untuk mengendalikan dengan apa yang dilakukan regulasinya. Malah ada diskon kan dan sebagainya," ucapnya.

Dicky mengatakan, tingginya angka positivity rate di Indonesia jauh dari standar aman yang ditetapkan WHO memastikan bahwa pandemi Covid-19 belum bisa terkendali. Per Jumat 1 Januari 2021, angka positivity rate Indonesia mencapai 15,8 persen.

"Positivity rate kalau itu lebih dari 10 persen artinya situasi pandemi tidak terkendali. Kalau lebih dari 20 persen, artinya selain penyebaran tidak terkendali juga sudah terjadi outbreak besar," ungkapnya.

Sekadar informasi, pemerintah mewajibkan rapid test antigen bagi pelaku perjalanan selama Natal dan Tahun Baru 2021. Bagi mereka yang menyiapkan perjalanan harus ingat masa berlaku rapid test antigen yang hanya tiga hari, begitu juga PCR test cuma tujuh hari.

Ingat, terus terapkan gerakan 3M: memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibupakaimasker #ingatpesanibujagajarak #ingatpesanibucucitangan #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Lihat Sumber Artikel di Okezone Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Okezone. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Okezone.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini