Biar Gak Tegang, Presiden Taiwan Ajak China Dialog

Biar Gak Tegang, Presiden Taiwan Ajak China Dialog Kredit Foto: Rakyat Merdeka

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen membuka diri untuk berdialog dengan China. Namun, dia berharap, Negeri Tirai Bambu, menghormati kedaulatan negaranya.

Dikutip Channel News Asia, kemarin, dalam pidato tahun barunya, Tsai menegaskan, pihaknya siap berdamai dengan China asal kedaulatan Taiwan dihormati. Menurut Tsai, Taiwan akan berpegang pada prinsip-prinsip yang mereka yakini terkait perdamaian.

“Selama otoritas Beijing bertekad untuk meredakan an­tagonisme dan meningkatkan hubungan lintas selat, sejalan dengan prinsip timbal balik dan martabat, kami bersedia untuk bersama-sama mempromosikan dialog yang bermakna,” kata Presiden pertama wanita itu.

Tsai mengungkapkan, da­lam setahun terakhir, aktivitas militer China di dekat Taiwan telah mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Apakah China mau menerima ajakan Taiwan? Banyak yang pesimis China bakal mau. Sebab, Beijing telah memutus upaya pembicaraan formal pada 2016. Sejak Tsai menjabat, Tai­wan telah berulang kali mengundang China untuk berdialog, namun selalu ditolak. Negeri Tirai Bambu mau berdialog dengan syarat Taiwan mengakui sebagai bagian dari wilayah China.

Seperti diketahui, Pulau Tai­wan yang terpisah dari dara­tan utama China. Taiwan telah lama mendirikan pemerintah otonom sendiri di bawah sistem demokrasi. China sampai saat ini masih menganggap Taiwan sebagai salah satu provinsi di China.

Hubungan kedua negara ini semakin rumit setelah AS yang merupakan rival utama China secara tegas menunjukkan du­kungannya kepada Taiwan. Be­berapa bulan terakhir ini, AS sering mengirimkan armada militer mereka ke sekitar Selat Taiwan yang sensitif.

 

Kamis (31/12), dua kapal perang AS berlayar melalui Selat Taiwan. Kejadian ini memicu aksi protes dari Beijing. Apalagi, hal itu terjadi selang dua pekan setelah kapal induk China meng­gunakan jalur air yang sama.

Angkatan Laut AS menga­takan, kapal perusak berpeluru kendali USS John S. McCain dan USS Curtis Wilbur telah melakukan transit rutin Selat Taiwan pada 31 Desember sesuai dengan hukum internasional.

“Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komit­men AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Militer Amerika Serikat akan terus ter­bang, berlayar, dan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan,” pernyataan resmi Angkatan Laut AS seperti yang dikutip Reuters.

Kementerian Pertahanan China mengecam perjalanan itu sebagai aksi provokasi dan unjuk kekuatan. Kementerian Pertahanan China menambah­kan, lintasan kapal mengirim pesan yang salah kepada pendu­kung kemerdekaan Taiwan dan merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan stabilitas.

“Tentara Pembebasan Rakyat China mempertahankan kewas­padaan tingkat tinggi setiap saat, menanggapi semua ancaman dan provokasi setiap saat, dan dengan tegas membela kedaulatan nasional dan integritas wilayah,” kata kementerian itu.

Sementara, Kementerian Per­tahanan Taiwan mengatakan, ka­pal-kapal tersebut berlayar ke arah utara melalui selat yang disebutnya sebagai “misi biasa”.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini