Kisah Perusahaan Raksasa: Dari Tangan Bill Gates of Japan, Pamor SoftBank Terus Mentereng

Kisah Perusahaan Raksasa: Dari Tangan Bill Gates of Japan,  Pamor SoftBank Terus Mentereng Kredit Foto: Reuters

SoftBank Group Corporation adalah konglomerat induk multinasional Jepang yang bermarkas di Tokyo. SoftBank menguasai saham di banyak perusahaan teknologi, energi, dan tentunya keuangan. Yang terbesar, ia menjalankan Vision Fund, dana modal ventura teknologi terbesar dengan modal lebih dari 100 miliar dolar AS.

Besarnya SoftBank tumbuh berkat sang pendiri, Masayoshi Son. Perusahaan Son juga memegang operasional telekomunikasi, e-commerce, internet, desain, media dan pemasaran, serta bidang lainnya.

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: Tumbuh di Spanyol, Bisnis Banco Santander Lama-lama Jadi Mengglobal

TranslatingAmbition.jpg

Yang juga unik adalah logo dari SoftBank. Lambang ini terinspirasi dari bendera Kaientai, perusahaan perdagangan angkatan laut yang beridiri pada 1865, dekat akhir keshogunan Tokugawa, oleh Sakamoto Ryoma.

Perusahaan konglomerat Masayoshi Son adalah satu dari sekian korporasi masif asal Jepang yang masuk dalam daftar perusahaan raksasa Fortune Global 500. SoftBank pada 2020 berada di peringkat ke-94 daftar tersebut dengan kekayaan total 344,751 miliar dolar. Sementara untuk pendapatan bersih perusahaan mencapai 87,44 miliar dolar, dengan kenaikan hanya 1 persen per tahun. Di balik itu, perusahaan di tahun ini ternyata merugi 169,5 persen atau senilai 8,84 miliar dolar. 

Jika dilihat, angka tersebut memang mengalami kenaikan kecil dan bahkan penurunan dibanding dengan tahun 2019. Di tahun ini, pendapatan dan laba bersihnya senilai 86,60 dan 12,72 miliar dolar. Namun di tahun 2019, peringkat SoftBank hanya berada di nomor 98 dunia.

Seperti apa perjalanan SoftBank bisa menjadi salah satu perusahaan raksasa  dunia? Pada Senin (28/12/2020), Warta Ekonomi akan mengulas secara ringkas perusahaan itu dalam artikel sebagai berikut.

SoftBank didirikan dan dipimpin oleh Masayoshi Son, pemuda Jepang berusia 24 tahun. Kala itu karirnya sangat menanjak, sehingga ia mendapat julukan 'Bill Gates of Japan' Bukan cuma itu, performa gemilangnya lahir berkat Son memiliki kombinasi karakter yang langka sebagai penemu, pengusaha, dan penjual (sales) yang sempurna. 

Son lahir pada 1957 dari pasangan Jepang dan Korea. Di awal-awal ia dibesarkan oleh keluarganya, ia mengakui bahwa masa-masa itu sebagai momen kemiskinan dan ditandai dengan kewarganegaraan kelas dua. 

Penyebab Son dan keluarganya berada di momen tersebut salah satunya karena diskriminasi orang Jepang terhadap Korea. Keluarganya terpaksa menggunakan nama keluarga Jepang, Yasumoto, untuk lebih berasimilasi dengan masyarakat. Di usia Son 13 tahun, keadaan keluarganya membaik dan kelasnya naik ke taraf menengah. Di usia remaja tepat 16 tahun, Son melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk masuk sekolah menengah. 

Pemuda berbakat itu melanjutkan studinya di Holy Names College selama dua tahun. Ia kemudian dipindahkan ke University of California di Berkeley. Di sanalah, dengan bantuan beberapa profesor mikrokomputer, dia menghasilkan  1 juta dolar pertamanya pada usia 19 tahun dengan mengembangkan penerjemah saku.

Son menjual paten perangkatnya kepada Sharp Corporation, yang memasarkannya sebagai Sharp Wizard. Pada saat ia berusia 20 tahun, Son telah memperoleh satu juta lagi dengan mengimpor mesin video gim bekas dari Jepang.

Uniknya, meskipun Son menyadari bahwa akan relatif mudah untuk memulai bisnis di AS, pengusaha pemula juga tahu bahwa budaya Jepang cenderung menghasilkan karyawan yang cenderung lebih setia dan bekerja lebih keras daripada rekan-rekan Amerika mereka. Akibatnya, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah lulus kuliah.

ThePowerofStory.png

SoftBank secara resmi dibentuk oleh Son pada 1981. Pada awalnya, perusahaan Jepang ini lebih sebagai tontonan semata. Karena itulah, dengan enggunakan kombinasi dana yang diperoleh dan dipinjam sebelumnya, Son membeli salah satu area tampilan terbesar yang tersedia di acara elektronik konsumen tahun 1981 di Tokyo.

Bukan cuma itu, arena sama sekali tidak ada produk untuk ditawarkan, Son menelepon ke-12 vendor perangkat lunak yang dia kenal saat itu dan menawarkan untuk memajang barang dagangan mereka di stannya secara gratis. Tak heran, banyak yang memanfaatkan kesempatan itu.

Dari sekian vendor yang datang dan memamerkan produk di lapaknya, Son hanya mendapat satu kontrak yakni oleh Joshin Denki Co, pengecer personal computer (PC) terkemuka Jepang. Siapa sangka dari langkah itu, selama tahun pertamanya dalam bisnis, penjualan bulanan SoftBank Jepang menjamur dari 10.000 menjadi 2,3 juta dolar. Pada tahun 1983, perusahaan melayani lebih dari 200 outlet dealer.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini