Pemeluk Islam di Israel Bertambah dari Waktu ke Waktu, Gak Kaget Penyebabnya...

Pemeluk Islam di Israel Bertambah dari Waktu ke Waktu, Gak Kaget Penyebabnya... Kredit Foto: Antara/Unsplash/John T

Jumlah warga Israel yang memeluk Islam terus meningkat dari waktu ke waktu. Pernikahan campuran antara orang Yahudi dan Arab menjadi faktor utamanya.

Lehava, sebuah organisasi yang menentang asimilasi tidak suka dengan fenomena mualaf dari pernikahan campuran tersebut.

Baca Juga: Negeri Vladimir Putin Terang-terangan Anggap Israel Sumber Perkara di Timteng

Konversi agama sejatinya hal biasa di negara mana saja. Namun, menjadi masalah ketika itu terjadi di Israel, wilayah yang sedang berkonflik dengan Palestina yang didominasi orang Arab. 

Pada 2017, ketika Noy Shitrit, seorang perempuan muda Yahudi dari Israel selatan, masuk Islam dan menikah dengan seorang Arab Israel, kisah itu mengejutkan banyak orang di negara Yahudi tersebut.

Publik Israel biasanya tidak memandang serikat seperti itu secara positif. Alasannya adalah konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun, pertumpahan darah selama bertahun-tahun, dan hasutan bersama. Hal inilah mengapa massa berjuang untuk memahami apa yang bisa mendorong seorang perempuan muda Yahudi ke dalam pelukan yang mereka anggap "musuh".

Kisah Noy membuat kelompok Lehava terusik karena pria yang menikahinya ternyata kasar. Anat Gopstein, yang bersama suaminya mendirikan Lehava, mengatakan apa yang dialami Noy juga dialami gadis-gadis lain yang pindah agama melalui pernikahan campuran.

"Banyak dari gadis-gadis ini (yang akhirnya pindah agama) berasal dari latar belakang bermasalah. Beberapa tertarik pada perhatian yang dia berikan padanya, yang lain terpesona oleh hadiah. Hubungan ini selalu dimulai dengan 'wow' tetapi semuanya berakhir dengan masalah," katanya.

Lehava menganggap para gadis Yahudi yang pindah agama melalui pernikahan campuran tersebut sebagai pihak "yang tersesat". Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa pada tahun 2005, Anat bersama suaminya mendirikan Lehava.

Meskipun banyak orang di Israel menganggap Lehava sebagai gerakan sayap kanan yang mengumbar hasutan dan bahkan teror, Anat mengatakan "kemunafikan permainan politik" tidak akan menghentikannya untuk melanjutkan aktivitasnya.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini