AS Mungkin Saja Gempur Iran Jelang Trump Lengser, Israel Langsung Siap Siaga

AS Mungkin Saja Gempur Iran Jelang Trump Lengser, Israel Langsung Siap Siaga Kredit Foto: Antara/REUTERS/Raneen Sawafta

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mendapat instruksi untuk bersiap diri terkait potensi serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran menjelang lengsernya Presiden Amerika Donald Trump pada Januari mendatang.

Instruksi itu diungkap pejabat senior Israel yang dikutip Axios pada Rabu (25/11/2020). 

Baca Juga: Kanada Tuduh China, Korut, Iran, dan Rusia Ancaman Kejahatan Dunia Maya

Pejabat itu menjelaskan bahwa IDF telah diberitahu oleh pemerintah Israel tentang persiapan tersebut bukan karena telah mengonfirmasi pengetahuan tentang serangan AS yang akan segera terjadi, melainkan karena pejabat Israel merasa bahwa jika serangan seperti itu terjadi, mereka tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk bersiap sepenuhnya.

Pejabat senior yang tidak disebutkan namanya itu lebih lanjut memaparkan bahwa pihaknya merasa bulan-bulan terakhir—yang dianggap Trump di Gedung Putih akan menjadi "periode yang sangat sensitif"—mencatat bahwa langkah-langkah kesiapsiagaan juga terkait dengan kemungkinan serangan Iran terhadap Israel baik secara langsung atau melalui proksi Iran di Timur Tengah.

Ketegangan antara Iran dan Israel terus memanas selama bertahun-tahun. Namun, baru-baru ini, pasukan Israel melakukan serangan balasan terhadap sasaran Iran di Suriah setelah pasukannya mendeteksi bom pinggir jalan di Dataran Tinggi Golan.

Pejabat Israel mengklaim bahwa bom di Dataran Tinggi Golan tersebut ditanam oleh anggota Angkatan Bersenjata Suriah dan Pasukan Quds Iran. Pemerintah Zionis menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Israel.

Awal bulan ini, H.R. McMaster—pensiunan letnan jenderal Angkatan Darat AS yang sebelumnya menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional di dalam pemerintahan Trump— juga mengisyaratkan bahwa Israel sendiri dapat memilih untuk melancarkan serangan terhadap Iran jika Trump meninggalkan jabatannya.

Laporan Axios juga muncul seminggu setelah New York Times melaporkan bahwa Trump telah mempertimbangkan untuk memerintahkan serangan militer terhadap situs nuklir utama Iran di Natanz.

Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), di situs itu terdapat cadangan uranium yang dihasilkan Iran 12 kali lebih besar dari batas yang diberlakukan di bawah JCPOA, perjanjian nuklir antara Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China) pada 2015. AS sendiri sudah keluar dari perjanjian itu pada 2018.

New York Times mencatat bahwa Trump pada akhirnya dibujuk seorang jenderal AS untuk tidak mewujudkan rencana serangannya terhadap Iran dengan alasan akan memicu konflik yang lebih luas.

Juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, menyatakan bahwa tindakan apa pun terhadap negaranya akan ditanggapi dengan "respons yang menghancurkan."

Minggu lalu, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei; Hossein Dehghan, mengatakan kepada Associated Press bahwa serangan AS terhadap Iran akan memicu "perang skala penuh" di Timur Tengah.

"Jelas, Amerika Serikat, kawasan, dan dunia tidak tahan menghadapi krisis yang begitu komprehensif," katanya.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini