Kebijakan Timteng Obama Bisa Hidup Lagi di Masa Biden, Bawa Keuntungan?

Kebijakan Timteng Obama Bisa Hidup Lagi di Masa Biden, Bawa Keuntungan? Kredit Foto: Antara/REUTERS/Jonathan Ernst

Sejumlah pengamat memprediksi bahwa kebijakan Timur Tengah era Barack Obama mungkin akan kembali diterapkan di masa pemerintahan Joe Biden. Hal yang sama juga mungkin akan berlaku pada kebijakan terkait Afrika Utara.

"Secara global, pemerintahan Biden akan mendorong untuk meredakan ketegangan dengan China dan Uni Eropa, serta negara-negara NATO. Meningkatkan retorika terhadap Korea Utara (Korut) dan memberlakukan lebih banyak sanksi pada Rusia, Iran, dan Suriah untuk alasan apa pun yang dapat mereka bayangkan," kata Ghassan Kadi, seorang pakar Timur Tengah dan analis politik keturunan Suriah.

Baca Juga: Joe Biden Dikasih Bocoran buat Perangi Corona dari Jacinda Ardern

Tim kebijakan luar negeri Biden telah mengumpulkan lebih dari 2.000 orang, termasuk 20 kelompok kerja, untuk menentukan agenda kebijakan luar negerinya dan "membalikkan" beberapa kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.

Sementara Senator Bernie Sanders telah menyatakan keprihatinan atas lingkaran dalam Biden yang sebagian besar terdiri dari veteran pemerintahan Clinton dan Obama, yang sebelumnya mendukung intervensi militer AS di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah.

Kadi menuturkan, selama masa pemerintaha Biden, AS kemungkina besar akan membatalkan rencana mundur dari Suriah, Irak, atau Afghanistan dalam waktu dekat. Dia tidak mengesampingkan peningkatan kontingen militer AS di Suriah di bawah pemerintahan Biden.

"Jawaban sederhananya adalah tidak, bukan karena mereka tidak seharusnya, tetapi karena mereka akan terlalu sombong untuk menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari jalan buntu tanpa negosiasi," ucapnya.

"Jika ada, penasihat atau tim penasihat baru yang akan mendorong untuk menunjukkan bahwa kebijakan Donald Trump di Suriah salah, mereka kemungkinan akan menganjurkan pengiriman lebih banyak pasukan ke Suriah," sambungnya, seperti dilansir Sputnik.

Misalnya, Kadi mecontohkan, adalah Colin Kahl, seorang penasihat informal untuk kampanye Biden, dikenal karena strategi "keterlibatan progresif" yang membayangkan penempatan jangka panjang dari kontingen militer AS ke negara-negara Timur Tengah setelah pemberontakan Arab untuk mengawasi "reformasi demokrasi" di sana.

Kahl, yang menjabat sebagai direktur di Kementerian Pertahanan AS yang mengurusi masalah Timur Tengah dari 2009 sampai akhir 2011, sebagian besar dianggap sebagai arsitek tanggapan Pentagon terhadap "Arab Spring" di awal 2010-an dan kemudian dibajak oleh kelompok teroris, seperti Ikhwanul Muslimin, al-Qaeda, dan kemudian ISIS di beberapa negara Arab.

Menanggapi kritik Partai Republik terhadap strategi Obama di Timur Tengah dan Afrika Utara, Kahl bersikeras pada tahun 2012 bahwa pemberontakan militan pada akhirnya akan digantikan oleh aliansi antara "Islamis moderat" dan partai-partai Arab sekuler, sesuatu yang belum pernah terjadi, hampir satu dekade setelah peristiwa awal.

Dia juga dikenal sebagai pengkritik utama Trump, khususnya terkait kebijakan Timur Tengah. Dia mengecam Trump atas keputusannya untuk segera menarik diri dari Suriah setelah kekalahan teroris Daesh. Menurut Kahl, tujuan Washington di Republik Arab tidak terbatas untuk menggagalkan ancaman teror.

Sebaliknya, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS itu memuji rencana Biden untuk mempertahankan kontingen militer terbatas di Timur Tengah dan Afghanistan.

Namun, menurut Kadi, situasi di Timur Tengah dan sekitarnya telah berubah secara dramatis selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, Suriah bukan lagi negara yang runtuh seperti lima tahun lalu.

"Jika (Kahl) benar-benar ingin memiliki 'keterlibatan progresif' dengan rakyat Suriah, ia kemudian harus mendukung gagasan menarik diri dari Suriah tanpa syarat karena Amerika tidak memiliki bisnis di Suriah atau legitimasi kehadirannya," tegasnya.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini