Kelapa Sawit: Produk Strategis yang Berkontribusi Besar terhadap Neraca Perdagangan

Kelapa Sawit: Produk Strategis yang Berkontribusi Besar terhadap Neraca Perdagangan Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas

Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan di tengah pandemi. Peningkatan kinerja ekspor produk sawit sebagai komoditas strategis dan unggulan ekspor menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekspor Indonesia pada kuartal ini.

Berdasarkan perhitungan PASPI Monitor dengan menggunakan sumber data BPS, volume ekspor produk sawit (minyak sawit, biodiesel, dan oleokimia) mengalami peningkatan, yakni dari 7,85 juta ton pada kuartal II-2020 menjadi 8,58 juta ton pada kuartal III-2020.

Baca Juga: Menlu: Diskriminasi Uni Eropa terhadap Sawit Bertentangan dengan Prinsip Kemitraan

Tidak hanya volume, nilai ekspor produk sawit juga mengalami peningkatan dari US$4,74 miliar (atau sekitar Rp66,9 triliun) menjadi US$5,44 miliar (atau sekitar Rp76,7 triliun) pada periode tersebut. Hal ini karena terjadinya peningkatan demand untuk produk sawit sebesar 65,9 persen, sebagai dampak dari recovery perekonomian China yang relatif cepat akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, kinerja ekspor produk sawit yang meningkat, harga CPO pada CIF Rotterdam basis juga mengalami peningkatan, yakni dari US$656 per MT (atau sekitar Rp9.249.600 per MT) menjadi US$738 per MT (atau sekitar Rp10.405.800 per MT) selama periode Juli-September 2020.

Masih dalam laporan PASPI Monitor dijelaskan, "Peningkatan kinerja ekspor produk sawit Indonesia juga berdampak pada meningkatnya surplus net trade sektor nonmigas lebih dari dua kali lipatnya dari US$3,39 miliar (atau sekitar Rp47,8 triliun) pada kuartal II-2020 menjadi US$9,13 miliar (atau sekitar Rp128,73 triliun) pada kuartal III-2020."

Tidak hanya berkontribusi terhadap terciptanya surplus net trade sektor nonmigas, laporan tersebut juga menyebutkan jika produk yang dihasilkan oleh industri sawit nasional, yaitu biodiesel dengan kebijakan mandatori B30-nya juga mampu berkontribusi terhadap penghematan devisa sektor migas.

Dalam laporan yang sama juga dijabarkan, jika dihitung secara akumulatif selama periode Januari-September 2020, kontribusi sawit terhadap devisa ekspor dan penghematan devisa akibat implementasi B30 mampu menciptakan surplus total neraca perdagangan sebesar US$13,51 miliar (atau sekitar Rp198 triliun) atau lebih dari tiga kali lipat dana penanganan pandemi Covid-19 dari APBN yang sekitar Rp75 triliun.

Hal ini makin mengukuhkan bahwa produk sawit sebagai produk strategis yang berkontribusi besar terhadap neraca perdagangan dan perekonomian Indonesia di tengah pandemi dan kondisi resesi ekonomi.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini