WHO dan IDAI Tak Rekomendasikan Sekolah Buka Tatap Muka saat Pandemi Covid-19

WHO dan IDAI Tak Rekomendasikan Sekolah Buka Tatap Muka saat Pandemi Covid-19 Foto: Mochamad Ali Topan

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim, dr. Endah Setyarini, S.pa secara tegas mengatakan, saat ini ada beberapa sekolah didaerah mulai melakukan uji coba tatap muka dalam pembelajaran. Akan tetapi langkah uji coba itu sebaiknya, jangan dilakukan dikarenakan belum ada rekomendasi dari organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) dan IDAI selama daerah itu belum masih rawan dengan Covid-19.

"Pembelajaran tatap muka belum direkomendasikan selama suatu daerah belum menjadi zona hijau, atau setidaknya zona kuning," tegas  Endah saat diskusi online bertema Vaksin Covid-19 dan Kesiapan Anak Menjalani Pembelajaran Tatap Muka yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung dan Jurnalis Sahabat Anak (JSA) didukung oleh  Unicef Indonesia,  Rabu (18/11/2020).

Baca Juga: Ombudsman Minta Sekolah secara Tatap Muka Dimulai

Endah menambahkan pula, selain zona risiko, ada banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum memutuskan akan membuka sekolah. Pertama yaitu melakukan pemetaan kasus positif per kelurahan, pemetaan lokasi sekolah termasuk dari mana saja muridnya berasal. 

"Karena bisa saja sekolahnya zona hijau tapi muridnya ada yang dari zona merah dan terjadi penularan sesama siswa, lalu ke orang dewasa di sekitarnya," ujarnya.

Selain itu pesan Endah, yang  perlu diperhatikan pula transportasi siswa ke sekolah. Siswa yang menggunakan kendaraan umum tentunya akan lebih berisiko. Selain itu juga perlu diperhatikan kontak siswa atau guru dengan orang lain. 

Hingga saat ini lanjut dia, masih belum ada vaksin virus Covid-19 belum ditemukan secara akurat. Walaupun saat ini, pemerintah maupun negara lain terus berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan berbagai penemuan vaksin Covid-19 akan tetapi membutuhkan waktu cukup panjang serta uji klinis tentang keefektifannya sebelum tersedia secara luas. WHO sendiri menyatakan, bahwa setidaknya sudah ada lebih dari 100 perusahaan vaksin di berbagai negara yang sedang dalam proses uji klinis dan hingga saat ini belum final. 

Sementara itu, Wakil Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia Jatim, dr. Atik Choirul Hidajah, M.Kes memaparkan, jumlah kasus Covid-19 pada anak di Indonesia mencapai 9,7 persen dari total penderita Covid-19 atau sejumlah 24.966 anak. Secara rinci jumlah tersebut terbagi menjadi 2,4 persen anak usia 0-5 tahun dan 7,3 persen anak usia 6-18 tahun. 

Menurutnya, untuk kembali membuka sekolah dan melakukan kembali pembelajaran tatap muka tentunya dibutuhkan kajian secara ilmiah. 

"Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan pilihan paling baik untuk mencegah penularan antara siswa serta penularan siswa kepada guru," tegas dia.

Meskipun demikian, ia meminta orangtua mewaspadai imbas akibat PJJ bagi kesehatan anak. Diantaranya Computer Vision Syndrome seperti gangguan mata, otot dan penglihatan akibat terlalu lama menatap layar gawai. 

Selanjutnya
Halaman

Ingat, terus terapkan gerakan 3M: memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibupakaimasker #ingatpesanibujagajarak #ingatpesanibucucitangan #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini