KOL Stories x Yohanes G Pauly: Membangun Bisnis Sukses Profitable and Auto Pilot

KOL Stories x Yohanes G Pauly: Membangun Bisnis Sukses Profitable and Auto Pilot Kredit Foto: Instagram/Yohanes G Pauly

Memiliki usaha memang menjadi impian kebanyakan orang. Bagaimana tidak, jika melihat kehidupan para pengusaha kelas kakap yang bisa berlibur keliling dunia, memiliki harta yang berlimpah hingga tujuh turunan, serta memiliki hidup mewah memang membuat iri para pekerja.

Banyak orang yang mulai berani meninggalkan pekerjaan untuk merintis karir sebagai seorang entrepreneur. Tapi seberapa banyak yang berhasil menjadi pengusaha sukses yang bergelimang harta? Kebanyakan malah terjebak, hingga akhirnya memutuskan untuk kembali menjadi karyawan di perusahaan orang lain.

Baca Juga: KOL Stories x Ferdie Darmawan: Kulak-kulik Cara Kaum Rebahan Mengatur Uang

Lantas, apa yang harus dipersiapkan oleh para pelaku bisnis agar bisa lepas landas pada tahun 2021 mendatang? Lalu bagaimana tips sukses membangun bisnis yang profitable dan auto-pilot di era post-pandemi?

Kali ini Warta Ekonomi melaui program Key Opinion Leaders Stories mengupas habis bagaimana membangun bisnis sukses profitable dan auto-pilot bersama dengan Coach Yohanes G Pauly yang merupakan Founder dari Gratyo Practical Business Coaching. Berikut ini kutipan wawancara progam KOL Stories tersebut.

Secara umum, bagaimana proyeksi Anda terhadap dunia bisnis dan ekonomi pada tahun 2021 mendatang?

Pandangan saya simpel, kalau kita belajar dari "Bumbata" buka mata buka telinga maka segala sesuatu di dunia ini pasti ada siklusnya, ada waktunya. Kalau kita melihat satu faktor sejarah bahwa ternyata setelah adanya pandemi, resesi, atau guncangan maka habis itu pasti ada long term prosperity. Nah, kita sekarang sedang mengalami guncangan berarti sebentar lagi secara long term prosperity terus growth, bisnis terus balik lagi luar biasa.

Pandangan saya sangat optimistis untuk tahun 2021 ke depan. Mungkin, tidak akan langsung balik karena habis new normal akan ada next normal. Nah, apa beyond normalnya? Kita tidak tahu. Tapi kalau kita lihat dari sejarah, semua akan balik optimistis. Lagian, apa untungnya kalau kita pesimistis?

Satu lagi belajar dari musim. Kalau di dunia ini ada empat musim, anggaplah hanya ada dua saja yaitu musim panas dan musim dingin. Sekarang itu musim dingin, semua orang di rumah, customer juga menahan diri untuk beli. Musim dingin semua gemetaran pakai selimut di dalam rumah. Entrepreneurs juga banyak yang seperti itu. Pertanyaannya, apa bisnis atau sektor yang akan naik luar biasa di musim panas?

Jawaban saya simpel, yaitu sektor yang pemilik bisnisnya kerja keras pada saat musim dingin ini. Dengan demikian, begitu matahari muncul di musim panas maka boom mereka akan terbang tinggi luar biasa. Tidak usah tahun depan, istilah entrepreneur itu kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia populer berarti pengusaha. Jadi, seorang entrepreneur harus selalu berusaha.

Menurut Anda, apa saja sektor yang menjanjikan pada tahun depan?

Saya jawab dari sisi praktis. Satu adalah faktor relevansi, kemudian pertanyaannya bagaimana supaya relevan? Jadi, apa sektor yang akan naik ke depan? Kalau menurut saya, faktor ini yang perlu banget dipegang adalah apapun sektornya kalau Anda punya faktor relevansi maka bisnis akan terus naik.

Nah, apa faktor relevansinya? Semuanya coming from internal bukan eksternal. Saya tidak mau bahas yang eksternal, saya mau bahas yang internal. Kenapa? Karena kita bisa mengontrol hal internal sedangkan kita tidak bisa kontrol hal eksternal.

Nah apa faktor relevansi itu? Ada tiga hal yang harus diketahui oleh pengusaha. Pertama, relevant business owner and team. Artinya, si pemilik bisnis dulu harus relevan sama zamannya. Maksud saya adalah memang ada bisnis yang sunset, bisnis yang tidak relevan. Kita tidak bisa apa-apakan.

Tapi, kalau bisnis Anda relevan, business owner dan tim relevan pada zamannya maka harusnya terus bisa sukses. Jadi, faktor pertama adalah apakah kita open minded atau tidak? Apakah kita kaizen terus? Continuous improvement dan never settle. Karena satu hal yang pasti di dunia ini adalah perubahan, kematian yang pasti.

Faktor kedua tentang relevan adalah produk atau layanan yang diberikan itu relevan atau tidak? Misalnya, mesin ketik kenapa mati? Karena sudah pindah ke mesin elektronik, kemudian pindah ke personal computer, terus ke laptop, dan ke smartphone. Jadi, produk dan layanan kita mesti dibuat relevan dengan zaman.

Ketiga, faktor relevan terhadap model bisnis. Jadi, business owner sudah relevan, produk dan layanan sudah relevan, tapi ternyata business model tidak relevan maka tidak bisa sampai ke customer. Makanya, kita harus cek lagi distribution channel kita seperti apa? Apakah reseller, dropshipper, direct sales, online store, atau marketplace? Jadi, itu tiga yang bisa saya bagikan.

Jawaban kedua saya untuk pertanyaannya, bagaimana untuk tahun depan dan seterusnya? Bagaimana supaya bisa tetap relevan? Ada formula simpel supaya tetap relevan. Namanya ONLINE. Semua orang sering dengar, bukan artinya harus jualan online, bukan begitu aja.

ONLINE ini ada singkatannya. Pertama, mau relevan di zaman now kita harus O yaitu On The Go, jadi bisnis kita bisa diakses, bisa dibeli, bisa dibawa. Pokoknya, harus on the go artinya bisa dijangkau dengan mudah. Terus bagaimana yang jualan traktor? Mesti lihat konteks, kalau Anda mudah diakses lewat internet kemudian traktor bisa di-delivery dengan bisnis modelnya, tapi Anda mudah untuk dijangkau. Itu O-nya.

Kemudian, N itu Need harus rapi, bersih. Saya lihat bisnis yang ke depan apalagi zaman internet sekarang ini bisnisnya harus berkualitas. Kalau tidak berkualitas, perang harga luar biasa. Karena tinggal ke marketplace sorting by harga, iya sudah. Kalau kita tidak tahu caranya, ya selesai. Jadi, produk kita harus berkualitas. Artinya, produk benar-benar sesuai dengan price.

Lalu L, Loud keras bersuara. Apa maksudnya? Jadi, kita harus berani bersuara keras di market kita. Pertanyaannya seperti ini, banyak yang sudah tahu produk dan jasa kita atau banyak yang belum tahu? Kalau menurut saya, banyak yang belum tahu kalau masih SME. Berarti, kita harus berani beriklan, tentu pakai channel yang relevan karena kalau kita diam saja maka siapa yang akan tahu? Cuma bagaimana cara pasang iklan? Bukannya buang garam ke laut tuh? Ada cara praktisnya sehingga customer antre di bisnis Anda.

Habis itu I, Internet. Apa artinya? Mau apapun bisnis, mau setradisional mungkin atau secanggih mungkin, kalau tidak ada di internet maka sangat tidak mudah di next normal atau beyond normal. Itu berarti mau tidak mau minimal kita ada di internet. Karena begitu ada di internet maka orang punya intention mau beli lalu dia search kata kunci yang berhubungan dengan merek Anda, tetapi  tidak muncul di halaman pertama Google berarti selesai. Sedikit sekali orang yang mencari sampai ke halaman 2. Ada yang search mereknya, berapa banyak orang yang tahu merek Anda?

Begitu di kategori yang berhubungan dengan kategori jasa muncul tapi di halaman 123, coba bayangkan. Jadi, harus di internet dan Google itu hanya satu langkah dari sembilan langkah.

Nah, N itu apa? Novelty yang berarti harus selalu baru. Kita harus terus inovasi dan melakukan continuous improvement. Kita loud, kita varian, rebranding kalau perlu relaunch sesuai pada zamannya. Kita harus punya panel innovation. Kita harus dua langkah di depan competitor. Jadi, novelty harus selalu yang baru karena costumer bisa bosan. Tapi ingat, bukan pemilik bisnisnya yang bosan karena kebanyakan pemilik dan tim yang bosan diganti-ganti padahal customernya belum bosan. Bagaimana bisa bosan jika orang tahu merek Anda saja belum.

Terakhir, E adalah environment and health friendly. Jadi, ke depannya dunia akan makin senang sesuatu yang heathly. Ini pun tanda kutip bisa safety juga.

Jadi, itu syaratnya minimal kalau bisnis kita mau relevan di next normal bahkan beyond normal yakni O N L I N E.

Banyak orang yang terpaksa harus menjadi seorang entrepreneur karena terkena PHK selama pandemi Sebenarnya, seperti apa sih anak tangga yang ideal agar menjadi seorang entrepreneur sejati?

Di sekolah kehidupan ini di mana kita berada sekarang ada empat anak tangga. Tapi, sebelum kita menuju tangga ini, sukses, duit banyak, financial freedom, dan time freedom siapa sih yang tidak mau seperti itu? Ternyata, sebelum yang empat itu ada dua anak tangga lagi nih. Sewaktu lahir ke dunia kita itu sedang berada di anak tangga minus dua. Artinya, anak tangga menjadi child atau anak.

Ketika lahir ke dunia kita menjadi anak seseorang. Sewaktu menjadi anak sebenarnya kita menggunakan tiga bahan bakar untuk naik ke tiga tangga ini yaitu time, energy, and money. Ketiga bahan bakar yang membuat dunia berputar. Time adalah waktu, energy adalah energi kesehatan atau aktivitas, lalu money atau uang.

Sewaktu kecil minus dua itu saat mau minum susu kita pasti memakai uang orang tua, energi orang tua buat beli, dan waktu orang tua. Berarti, waktu kecil sebenarnya kita sudah jadi entrepreneur karena kita punya bisnis yang profitable dan auto pilot. Karena apa? Kita tidak perlu bekerja, semua yang kita mau sudah didapat. Kehidupan kan terus berlanjut, naiklah ke minus satu. Kita harus sekolah maka kita jadi minus satu tangga menjadi seorang student.

Nah, student ini menjadi murid di sekolah. Waktu sekolah mulai terkikis tuh bisnis yang profitable dan auto pilot kita. Hal itu karena kalau mau beli handphone, sepatu, baju, maka orang tua akan bilang sekolah dulu yang benar. Kan perlu waktu kita, energi kita, tapi money masih dari orang tua.

Habis itu baru kita masuk ke tangga pertama. Kebanyakan atau sekitar tujuh miliar lebih habis sekolah kita jadi employee. Waktu jadi karyawan kan terkikis semua baik dari time, energy, dan money untuk dapat yang kita mau. Habis dari karyawan, banyak yang bermimpi mau jadi entrepreneur karena kalau menjadi seorang entrepreneur katanya punya waktu banyak, uang banyak, katanya.

Banyaklah orang dari tangga pertama naik terus ke tangga ke atas ini. Nah, ternyata tangga keduanya bukan menjadi seorang entrepreneur, melainkan menjadi seorang self-employed berarti mengkaryakan diri sendiri. Waktu jadi employee mengkaryakan diri sendiri, kayak Joni The Kwetiau Man ini film pendek tentang Joni yang jualan kwetiau yang mau menjadi seorang entrepreneur.

Dulu Joni kerja dan bosnya bisa jalan-jalan tapi dia yang masak kwetiau. Kemudian dia mau jualan saja, kenapa harus kerja untuk orang lain? Tap, apa yang terjadi? Ternyata, waktu dia dorong kwetiau dia dapat uang, dan saat dia sakit maka di tangga kedua ini dia enggak bisa kerja dan tidak dapat uang.

Nah, ingatlah dia saat dulu menjadi seorang karyawan. Terlihat lebih enak karena saat sakit pun tetap dapat gaji. Kalau self-employed, tidak kerja iya sudah tidak akan dapat duit. Jadi, pilihannya ada dua yakni ingat masa lalu waktu kerja lalu balik kerja. Padahal, belum menjadi seorang entrepreneur tuh baru tahap self-employed, tapi ada orang yang pikir tidak bisa kembali lagi dan harus terus naik tangga.

Naiklah dia ke tangga ketiga. Di tangga ketiga inilah namanya entrepreneur. Tangga keempat namanya investor. Kalau lihat tangga ini dulu Robert Kiyosaki mentor saya juga sebutnya Cashflow Quadrant. Di Rich Dad, Poor Dad dia bilang bahwa dari employee ke self-employed lalu menyebrang ke entrepreneur lalu menjadi seorang investor.

Kalau saya menyebutnya tangga karena harus naik tangga. Cuma bedanya sama Om Robert adalah waktu mau menjadi entrepreneur itu tangganya ada jauh. Kalau dari employee ke self-employed tinggal loncat, tapi self-employed mau menjadi seorang entrepreneur itu jauh gap-nya. Nah gap-nya apa? Ini dia drama kehidupan terjadi, ini yang perlu diketahui sama semua orang yang mau jadi seorang entrepreneur. Yang perlu diketahui sama semua yang mau punya bisnis yang profitable dan auto-pilot.

Jadi, ternyata untuk bisa tiga tangga tadi ada tiga tangga kecil, dari tiga tangga ini dua tangga pertama jebakan batman banget. Biasanya setelah self-employed itu rekrut karyawan, yang terjadi adalah anak tangga pertama jadi entrepreneur itu jebakan batman yaitu mulai cari karyawan.

Ternyata, filosofi karyawannya ngeflow saja jadi mengapung saja. Akhirnya, di anak tangga kecil pertama namanya bisnis operator merasa menjadi pemilik bisnis punya karyawan tapi semuanya mesti dia, karyawan didorong-dorong baru jalan. Akhirnya, dia punya penyakit namanya heart eating atau makan hati sama karyawannya. Ada dua pilihan buat Anda yang ada di anak tangga kecil pertama ini.

Pertama, ingat masa lalu enakan dulu kerja, dia balik ke dulu. Ada yang mau naik, dia kumpulkan customer banyak tapi rekrut karyawan yang lebih bagus.

Dia naik ke anak tangga kedua namanya bisnis manajer, tapi ternyata masih penyakit heart eating juga. Kenapa? Karena dia mulai punya customer tapi tidak punya kehidupan. Mulailah dia rekrut yang namanya supervisor, manajer, GM dia bisa bayar tuh. Tapi, dia belum menjadi seorang business owner karena masih di tahapan business manager, jebakan kedua.

Kenapa? Karena dia punya struktur tapi ternyata semua kerjaan masih berpusat ke dia. Semua keputusan masih berpusat ke dia. Jadi, duit banyak tapi waktu tidak punya. Ada dua pilihan untuk business manager ini dia ingat masa lalu menjadi seorang business operator, atau dia tetap menjadi business manager . Seumur hidup sibuk dengan bisnis atau dia bisa naik ke tangga kecil ketiga untuk menjadi entrepreneur sejati. Ini namanya seorang business owner.

Kenapa dua anak tangga kecil ini berbahaya? Karena banyak yang mau menjadi seorang entrepreneur sejati tapi ternyata  tanpa sadar terjebak di dua tangga kecil pertama. Nah, syaratnya apa menjadi entrepreneur sejati? Syaratnya, dua yakni profitable dan auto-pilot. Artinya, bisnis bisa jalan sendiri tanpa ada Anda di dalamnya.

Lama-lama, kalau mau terus naik bisa menjadi seorang investor yang tidak perlu lagi terlibat di dalam bisnis.

Itu kalau mau menjadi seorang entrepreneur sejati. Nah, buat menjadi seorang entrepreneur sejati ada dua hal bagaimana cara membuat customer antre. Jadi, harus jago jualan ini ada empat kaki meja. Kaki meja pertama jago marketing dan branding, kedua jago sales, ketiga jago operation bikin sistem biar bisnis tetap jalan, dan keempat finance dan accounting. Nah, mejanya apa? Human capital. Berarti, harus bangun tim supaya menjadi super team.

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini