Gawat! Obama Bilang Hasil Pemilu Bikin AS Terpecah-Belah, Gak Salah Tuh?

Gawat! Obama Bilang Hasil Pemilu Bikin AS Terpecah-Belah, Gak Salah Tuh? Kredit Foto: Antara/REUTERS/Eve Edelheit

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengatakan hasil pemilu 3 November lalu menunjukkan pemilih masih terpecah menjadi dua kelompok. Masing-masing kandidat mendapatkan lebih dari 70 juta suara.

"Apa yang dikatakannya kami masih sangat terpecah belah, kekuatan pandangan dunia alternatif yang disajikan media yang dikonsumsi pemilih membawa beban berat," kata Obama saat diwawancara Gayle King untuk CBS Sunday Morning, seperti dikutip CNN, Selasa (17/11/2020).

Baca Juga: Joe Biden Akan Tunjuk Obama Jadi Dubes di Inggris, PM Inggris Marah?

King bertanya apakah hal itu membuatnya khawatir. Mantan presiden itu menjawab 'ya'. "Sangat sulit demokrasi kami berfungsi bila kami beroperasi hanya berdasarkan sejumlah fakta yang sepenuhnya berbeda," kata Obama.

Obama melakukan serangkaian wawancara sebelum buku biografinya yang berjudul 'A Promise Land' rilis pada 17 November. Buku tersebut berisi mengenai masa kecil dan awal karirnya di politik, sebelum kampanye pemilihan presiden 2008 dan empat tahun periode pertamanya di Gedung Putih.

Obama yang menjadi presiden kulit hitam pertama AS juga menyerang politik rasial Presiden Donald Trump. Obama mengatakan kemenangannya pada tahun 2008 membuka gelombang kegetiran dan perpecahan yang memicu obstruksi Partai Republik dan mengubah partai itu.

Obama juga membela keputusannya aktif berkampanye untuk mantan wakilnya Joe Biden. Ia mengatakan situasi yang membenarkan kritiknya terhadap penggantinya di Gedung Putih, sesuatu yang jarang dilakukan mantan presiden sebelumnya.

"Bukan preferensi saya untuk berada di luar sana, saya pikir kami dalam situasi pemilihan yang dalam norma tertentu, nilai institusional tertentu yang sangat penting telah dilanggar, ini penting bagi saya, sebagai seseorang yang mengabdi di sana untuk memberitahu masyarakat 'Ini bukan hal yang normal'," katanya.

Trump menolak mengakui kekalahan, tanpa memberikan bukti ia berulang kali mengklaim pemilihan presiden telah dicurangi. Ia mengajukan gugatan hukum atas hasil pemilihan ke sejumlah negara bagian.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini