Lima Berdarah, Pedemo Tewas di Unjuk Rasa Tolak Pemakzulan Presiden Peru

Lima Berdarah, Pedemo Tewas di Unjuk Rasa Tolak Pemakzulan Presiden Peru Foto: Reuters

Unjuk rasa di Peru berujung rusuh yang menyebabkan dua pendemo tewas, Minggu (15/11/2020) waktu setempat. Para pengunjuk rasa berdemo atas pemakzulan Presiden Peru Martin Vizcarra.

Dilansir laman BBC, dua pria, satu berusia 24 dan 25 tahun dilaporkan tewas. Beberapa orang juga dilaporkan terluka dalam bentorkan dengan polisi. Pihak berwenang terpaksa menembakkan gas air mata ke ribuan orang pendemo yang kebanyakan para pemuda.

Baca Juga: 'Ditendang' Kongres, Presiden Peru Terpaksa Harus Lengser

Awalnya, para pengunjuk rasa berkumpul di Kota Lima dan kota lain di seluruh negara yang berjalan damai. Dalam laporan Reuters, ibu kota bergema dengan terompet, dan teriakan para pengunjuk rasa menuntut pemecatan Ketua Kongres Manuel Merino yang menjabat sebagai presiden sementara.

Bentrokan terjadi menjelang malam setelah sekelompok pengunjuk rasa bertudung melemparkan kembang api dan batu ke arah polisi. Polisi kemudian menanggapinya dengan gas air mata.

Peru diguncang protes massal sejak Kongres memutuskan untuk mendakwa Vizcarra atas dugaan penyuapan. Tuduhan ini dibantah oleh presiden.

Ketua Kongres Manuel Merino kemudian mengambil alih jabatan sebagai presiden sementara. Kekhawatiran akan krisis politik memang telah berkembang karena Peru tengah menghadapi penurunan ekonomi drastis akibat pandemi virus korona.

Vizcarra (57 tahun) menikmati dukungan yang berkelanjutan di antara banyak pemilih atas upayanya melakukan reformasi. Dia terlibat dalam pertempuran sengit dengan Kongres yang didominasi oleh partai-partai saingan sejak ia menjabat pada Maret 2018.

Tahun lalu, presiden membubarkan Kongres dengan alasan anggota parlemen menghalangi agenda antikorupsinya. Kongres baru dipilih pada Januari tahun ini, namun ketegangan masih tinggi antara legislatif dan eksekutif. Vizcarra menuduh anggota parlemen telah mendorong kekacauan.

Pihak berwenang membawa Vizcarra ke ranah hukum atas dugaan suap saat dia menjabar seabgai gubernur wilayah Moquegua selaran. Namun dia membantah tuduhan bahwa dia menerima suap senilai 2,3 juta soles (640 ribu dolar AS).

Langkah pemakzulan Vizcarra Senin lalu di Kongres dilakukan setelah upaya sebelumnya untuk menyingkirkannya. Pemungutan suara sebelumnya yang diadakan pada 18 September gagal mendapatkan suara yang diperlukan ketika hanya 32 anggota parlemen yang memberikan suara mereka untuk mendukung pencopotan Vizcarra.

Vizcarra sebelumnya mengatakan, dia akan menerima pemungutan suara pemakzulannya. Dia berniat tidak mengambil tindakan hukum, dan meninggalkan istana presiden. Namun pada Selasa, dia mempertanyakan legalitas dan legitimasi pencopotannya.

"Legalitas dipertanyakan karena Mahkamah Konstitusi belum memutuskan, dan legitimasi diberikan oleh masyarakat," katanya kepada wartawan di luar rumahnya di Lima. Sementara Merino diperkirakan akan mempertahankan kursi kepresidenan hingga Juli 2021 ketika masa jabatan Vizcarra akan berakhir.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini