Meski Pandemi, Chandra Asri Berhasil Tuntaskan Proyek Pabrik MTBE dan B1 Tepat Waktu

Meski Pandemi, Chandra Asri Berhasil Tuntaskan Proyek Pabrik MTBE dan B1 Tepat Waktu Kredit Foto: Dok. Chandra Asri

Pandemi Covid-19 tak menghalangi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) untuk menuntaskan sejumlah proyek strategis dalam rangka mendukung kemandirian industri petrokimia nasional. Salah satu keberhasilan yang diraih Chandra Asri pada kuartal ketiga tahun ini adalah mulai beroperasinya pabrik Methyl Tert-butyl Ether (MTBE) dan Butene 1 (B1) per September 2020. 

Kedua pabrik yang pembangunannya berhasil diselesaikan tepat waktu walau ada pandemi Covid-19 itu merupakan yang pertama kalinya ada di Indonesia dan mempunyai kapasitas masing-masing sebesar 128 KTA untuk MTBE dan 43 KTA untuk B1. Manajemen Chandra Asri mengatakan, penyelesaian proyek yang dilakukan tepat waktu dilakukan untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mencapai target substitusi impor melalui program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) yang digagas oleh Kementerian Perindustrian.

Baca Juga: Perusahaan Petrokimia Milik Orang Terkaya ke 4 Ajak Perusahaan Belanda Buat Cari Cuan di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian tahun 2018, kebutuhan produk kimia nasional saat ini masih didominasi impor dari beberapa negara, khususnya untuk produk methanol dan turunannya, yakni MTBE dan B1. Nilai impor tersebut bahkan mencapai angka Rp174 triliun.  Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa peran Chandra Asri tak hanya dalam hal substitusi impor, tetapi juga mampu menarik investor baru ke Indonesia.

"Industri petrokimia di Indonesia memiliki peran penting dalam mensubtitusi impor. Oleh karena itu, perlu kita dorong untuk tumbuh. Selain substitusi impor, perusahaan petrokimia seperti Chandra Asri juga mampu menarik investor baru yang tentunya akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia," pungkasnya secara tertulis beberapa waktu lalu.

Mengamini pernyataan tersebut, Presiden Direktur Chandra Asri, yakni Erwin Ciputra mengungkapkan bahwa melalui pengoperasian pabrik baru, Chandra Asri berambisi untuk memenuhi harapan pemerintah dalam mengurangi impor hingga 35% pada tahun 2022 mendatang.

"Prioritas utama kami adalah mendukung pemerintah di industri dalam negeri dalam mengurangi ketergantungan impor. Dengan beroperasinya pabrik baru ini, kami berharap tujuan pemerintah mengurangi impor sampai 35% pada tahun 2022 dapat tercapai," jelas Erwin.

Selain pabrik MTBE dan B1, Chandra Asri juga berhasil menyelesaikan proyek suar tanpa asap atau enclosed ground flare (EGF) di tengah pandemi Covid-19. Proyek EGF tersebut dibangun di kompleks petrokimia miliknya yang berlokasi di Cilegon, Banten dan resmi dioperasikan pada September 2020. Proyek ramah lingkungan tersebut dibangun dengan nilai investasi sebesar US$14 juta.

"Chandra Asri berhasil merampungkan proyek EGF ini tepat waktu walaupun berada dalam masa pandemi," ungkap Erwin Ciputra.

Sebagai pengingat, di kompleks petrokimia milik Chandra Asri ini, Presiden Jokowi pernah mengutarakan harapannya bahwa Indonesia tidak lagi bergantung kepada impor bahan baku petrokimia dalam tiga hingga empat tahun mendatang. Jokowi juga berpesan kepada Chairman Chandra Asri saat itu, yakni Prajogo Pangestu untuk mengebut penyelesaian pembangunan pabrik petrokimia ini sesegera mungkin sehingga tidak memberi peluang bagi negara lain dalam memenuhi kebutuhan nasional.

"Jangan berikan peluang-peluang seperti ini ke negara lain. Kalau kita bisa membuat sendiri kenapa kita harus impor? Segera selesaikan Pak Prajogo pabriknya, kalau bisa jangan sampai 4 tahun, 2 tahun selesai gitu," tegas Jokowi saat menghadiri peresmian pabrik petrokimia dan polyethylene milik Chandra Asri di Cilegon, 6 Desember 2019 lalu.

Sebagai owner sekaligus chairman dalam Chandra Asri, Prajogo terus berkomitmen untuk menuntaskan sejumlah rencana pengembangan industri petrokimia, termasuk proyek pembangunan pabrik MTBE dan B1 ini. Perlu diketahui juga, Prajogo Pangestu memulai kiprahnya dalam membangun kemandirian bisnis di industri ini melalui Barito Pacific, perusahaan yang berfokus pada bidang pembangkit listrik dan produksi petrokimia. Lengan bisnis petrokimia dikelola melalui Chandra Asri, sedangkan lengan bisnis pembangkit listrik dikelola oleh Star Energy Geothermal, yakni produsen energi panas bumi terbesar di Indonesia.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk merupakan perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia yang memproduksi Olefins dan Polyolefins. Menjadi bagian dari Barito Pacific Group, Chandra Asri memiliki rekam jejak lebih dari 27 tahun dalam industri petrokimia dengan menggabungkan antara teknologi dan fasilitas pendukung yang berlokasi strategis di pusat petrokimia negara, Cilegon, dan Serang. 

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini