Gak Mau Kalah, Rusia Ngaku Vaksin Sputnik V Juga 90 Persen Efektif

Gak Mau Kalah, Rusia Ngaku Vaksin Sputnik V Juga 90 Persen Efektif Kredit Foto: Antara/REUTERS/Tatyana Makeyeva

Rusia mengeklaim bahwa vaksin Covid-19 buatannya 90 persen efektif. Pernyataan ini datang hanya beberapa jam setelah perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Pfizer, mengonfrimasi efektivitas vaksin yang diciptakan dengan tingkat yang sama.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan Rusia, yang dikenal sebagai Sputnik V telah disetujui pada Agustus. Padahal, saat itu uji coba pada manusia belum selesai dilakukan.

Baca Juga: Relawan Vaksin Corona Tewas, Brasil Bela Diri Sebut Kasus Bunuh Diri

Itu pula yang membuat vaksin Rusia menjadi bahan olok-olok di kalangan ilmuwan. Mereka menyebutnya sebagai vaksin setengah matang. Ada pula yang menganggapnya sedikit lebih unggul daripada air.

Sebaliknya, laporan efektivitas vaksin buatan Pfizer yang mencapai 90 persen dianggap sebagai langkah pertama menuju pengembangan vaksin yang efektif. Pfizer mengungkapkan bahwa vaksin yang dikembangkan perusahaan itu 90 persen efektif mencegah Covid-19 dan para ahli pun meresponsnya sebagai hari besar bagi kemanusiaan.

Hanya beberapa jam setelah pengumuman itu, Kementerian Kesehatan Rusia mengeklaim vaksin yang dibuat negara itu sama efektifnya.

"Kami bertanggung jawab memantau efektivitas vaksin Sputnik V di antara warga yang telah menerimanya sebagai bagian dari program vaksinasi massal. Berdasarkan pengamatan kami, ini juga lebih dari 90 persen," ujar Oksana Drapkina, kepala lembaga penelitian resmi Rusia, dilansir The Sun, Selasa (10/11/2020).

Vaksin Sputnik V juga diklaim akan memberikan kekebalan dari Covid-19 selama dua tahun. Bedanya, Pfizer mengumumkan efektivitas vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan itu didasarkan pada hasil uji coba Fase Ketiga.

Ohid Yaqub, dosen senior di Unit Riset Kebijakan Sains di Universitas Sussex menyerukan agar negara-negara lain tidak tertarik pada nasionalisme vaksin seperti yang dibuat Rusia. Ia mengatakan bahwa pengambilan keputusan harus dipublikasikan dan terbuka untuk dicermati.

"Belum pernah terjadi sebelumnya untuk sepenuhnya melewatkan uji coba Fase 3 seperti ini dalam pengobatan modern," jelas Yaqub.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini