Ini Ultimatum Imam Besar Al Azhar buat Para Penghina Nabi Muhammad

Ini Ultimatum Imam Besar Al Azhar buat Para Penghina Nabi Muhammad Kredit Foto: Unsplash/Simon Berger

Imam besar di otoritas agama tertinggi Mesir berjanji akan mengadili mereka yang menghina Nabi Muhammad. Ucapan tersebut disampaikan oleh ulama paling senior di Al-Azhar, Sheikh Ahmed Al-Tayyeb setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian.

"Kami akan melacak orang-orang yang menghina Nabi mulia kami di pengadilan internasional, bahkan jika kami menghabiskan seluruh hidup kami untuk melakukan itu," kata syekh pada Ahad (8/11/2020), dilansir dari laman Arab News pada Selasa (10/11/2020).

Baca Juga: Imam Besar Al-Azhar Sambut Baik Amanat Paus, Soal Apa?

"Kami menolak untuk menggambarkan terorisme sebagai Islam. Setiap orang harus segera berhenti menggunakan deskripsi itu karena itu menyakiti perasaan Muslim di seluruh dunia, dan itu adalah deskripsi yang bertentangan dengan kebenaran yang diketahui semua orang," lanjutnya.

Adapun Le Drian mengunjungi Mesir pada saat ketegangan meningkat, menyusul komentar Presiden Pranci, Emmanuel Macron tentang Islam. Macron menggambarkan islam sebagai iman yang dalam krisis di seluruh dunia, dan membela penerbitan kartun yang mengejek nabi.

Dalam konferensi pers, Le Drian mengungkapkan, penghormatan yang dalam kepada Islam dari negaranya, dan bahwa Muslim di Prancis merupakan bagian dari sejarah dan identitas bangsa.

Dalam pertemuannya dengan syekh, dia mengatakan, bahwa Prancis percaya pada pentingnya Al-Azhar dan imam besar dalam menyerukan toleransi dan moderasi.

"Kita harus bertarung dengan Al-Azhar yang hebat melawan kebencian dan delusi para ekstremis," kata dia.

Al-Tayyeb mengatakan, teroris tidak mewakili Muslim dan Muslim tidak bertanggung jawab atas tindakan teroris.

"Muslim di seluruh dunia menolak terorisme yang bertindak atas nama agama dan mereka menegaskan bahwa Islam dan nabinya tidak bersalah dari terorisme apa pun," kata dia.

"Kami ingin para pejabat di Eropa menyadari bahwa apa yang terjadi tidak mewakili Islam dan Muslim, terutama karena Muslimlah yang membayar harga untuk terorisme ini lebih dari yang lain," lanjutnya.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini