Acronis Cyber Protect Perkuat Bisnis di Tanah Air

Acronis Cyber Protect Perkuat Bisnis di Tanah Air Foto: Dok, Acronis Cyber Protect 15

Acronis, pemimpin global dalam produk perlindungan cyber, meluncurkan ketersediaan Acronis Cyber Protect 15 bagi pengguna di Indonesia. Acronis Cyber Protect adalah solusi perlindungan dunia maya unik yang diperkuat dengan artificial intellegence atau kecerdasan buatan yag dapat mengintegrasikan backup, disaster recovery, antimalware generasi baru, keamanan siber, dan perangkat endpoint manajemen seperti penilaian kerentanan, filter URL, dan manajemen patch ke dalam satu layanan.Baca Juga: Penerapan Digitalisasi Layanan di Bandara Harus Diperluas

Peluncuran ini disampaikan pada acara Cyber Security Forum yang dilakukan secara virtual dengan mengusung tema "Kebocoran Data di Era Digital, Seberapa Bahaya?” yang diselenggarakan bersama dengan mitra strategis Acronis yaitu OPTIMA Distribution. Acara ini menampilkan beberapa ahli di bidang keamanan siber, antara lain: Mariam F. Barata, Direktur Kementerian Informasi dan Komunikasi, Ardi Sutedja K, Ketua ICSF (Indonesia Cyber Security Forum), Refany Iskandar, Managing Director PT Optima Solusindo Indonesia, dan Neil Morarji, Acronis General Manager Asia Pacific. Baca Juga: Transformasi Digital Penting, Pemerintah Naikkan Anggaran Belanja TIK 2021

Kebocoran data yang terjadi berturut-turut melanda Indonesia tahun ini dialami oleh pemerintah, perusahaan swasta, maupun akun milik pribadi. Seperti kebocoran data pribadi salah satu public figure yang dicuri dan kemudian diunggah di media sosial. Kasus lainnya melibatkan sekelompok peretas yang mengklaim telah memperoleh 1,2 juta data pengguna dari salah satu perusahaan e-commerce terkenal di Indonesia, serta banyak kasus serupa lainnya yang terus bertambah.

Direktur Tata Kelola Aplikasi Informatika Kominfo Mariam F. Barata menjelaskan belakangan ini, baik di dalam maupun di luar negeri, telah terjadi banyak kasus pelanggaran data pribadi yang memberikan dampak kerugian yang signifikan bagi masyarakat. Menurutnya kebocoran data itu disebabkan oleh serangan siber, human error (negligent insider ), outsourcing data ke pihak ketiga, kesengajaan perbuatan orang dalam, kegagalan sistem, rendahnya aswareness, dan tidak peduli dengan kewajiban regulasi. 

“Jika dikelompokkan kebocoran data itu hampir 96% disebabkan oleh insiden siber,” jelas Mariam, dalam siaran pers, Senin (9/11/2020).

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini