Gak Peduli Drama Bikinan Trump, Biden Gerak Cepat Susun Pemerintahan Baru

Gak Peduli Drama Bikinan Trump, Biden Gerak Cepat Susun Pemerintahan Baru Kredit Foto: Antara/REUTERS/Brendan McDermid

Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden bergerak cepat untuk membentuk pemerintahannya. Meskipun Donald Trump belum mengakui kemenangan Biden.

Pandemi Covid-19 akan mendominasi hari-hari awal pemerintahannya. Biden menunjuk mantan ahli bedah Vivek Murthy, dan mantan komisioner Food and Drug Administration David Kessler, sebagai ketua bersama dari kelompok kerja Covid-19. Anggota lain diharapkan akan diumumkan pada Senin (9/11/2020).

Baca Juga: Peneliti Yakin Isu HAM Akan Mengudara dalam Pemerintahan Biden, Ini Alasannya...

Mengutip AFP, sebagai tahap awal diluncurkan situs BuildBackBetter.com yang menyertakan empat prioritas era kepemimpinan baru. Yakni Covid-19, pemulihan ekonomi, kesetaraan rasial, dan perubahan iklim.

Dalam situs tersebut dijelaskan tujuh poin untuk mengatasi pandemi Corona, termasuk meningkatkan pengujian dan gratis bagi semua warga Amerika, distribusi pengobatan dan vaksin yang adil dan efektif. Selain itu, bekerja sama dengan gubernur dan wali kota untuk menerapkan mandat penggunaan masker secara nasional.

Sebagai informasi, kasus Covid-19 di dunia tembus angka 50 juta pada Minggu (8/11/2020), menurut hitungan Universitas Johns Hopkins yang berbasis di AS. Data menunjukkan bahwa lebih dari 1,25 juta orang meninggal karena Covid-19, sementara pasien sembuh hampir berjumlah 32,9 juta pasien. Negara paling parah, AS melaporkan hampir 9,9 juta infeksi dan 237.000 lebih kematian

"Rakyat Amerika berhak mendapatkan respons yang mendesak, kuat, dan profesional terhadap kesehatan masyarakat yang berkembang dan krisis ekonomi yang disebabkan oleh wabah virus corona (Covid-19)," tulis situs tersebut.

Mengenai kesetaraan rasial, Biden dan Harris menjabarkan serangkaian rencana ekonomi untuk mengatasi kesenjangan.

"Saatnya telah tiba bagi bangsa kita untuk menangani rasisme sistematik. Untuk menghadapi ketimpangan ekonomi dan menangani pengingkaran janji negara kepada begitu banyak orang," tulis situs tersebut.

Pejabat tim transisi mengatakan, pada pekan ini Biden juga akan meluncurkan tim peninjau lembaga. Yaitu sekelompok staf transisi yang memiliki akses ke dalam pemerintahan saat ini untuk memudahkan transfer kekuasaan.

Tim akan mengumpulkan dan meninjau informasi seperti keputusan anggaran dan kepegawaian, peraturan tertunda dan pekerjaan lain yang sedang berlangsung, untuk membantu tim Biden mempersiapkan diri melakukan transisi.

Pejabat Gedung Putih belum berkomentar apakah mereka akan bekerja sama dengan tim Biden dalam peninjauan tersebut.

"Orang-orang ingin negara ini maju," kata Wakil Manajer Kampanye Biden, Kate Bedingfield, dalam sebuah wawancara di NBC.

"Biden dan Wakil Presiden terpilih Kamala Harris memiliki kesempatan untuk melakukan pekerjaan itu, untuk mengendalikan virus dan mengembalikan ekonomi kita," kata Kate lagi.

Tidak jelas untuk saat ini apakah Presiden Donald Trump dan pemerintahannya akan bekerja sama. Apalagi Trump belum mengakui kemenangan Biden. Pengusaha real estate itu telah berjanji mengajukan gugatan hukum di beberapa negara bagian, yang diperebutkan secara ketat dalam memutuskan hasil Pilpres AS tersebut.

Sebuah kelompok bipartisan pejabat administrasi dari pemerintahan Barack Obama, George W Bush, dan Bill Clinton pada Minggu meminta pemerintahan Trump untuk bergerak maju dan segera memulai proses transisi pascapemilihan.

Pernyataan tersebut ditandatangani kepala staf Gedung Putih Bush, Josh Bolten dan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Michael Leavitt serta kepala staf era Bill Clinton Thomas "Mack" McLarty dan Sekretaris Perdagangan Obama, Penny Pritzker.

Penasihat Biden, Jan Psaki mengatakan, presiden terpilih dan tim transisi telah berhubungan dengan anggota parlemen dari Partai Republik.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini