Negara Maju Dihantui Rasio Utang Hingga 140% Imbas Covid

Negara Maju Dihantui Rasio Utang Hingga 140% Imbas Covid Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar

Wabah virus corona (Covid-19) telah membawa dampak besar bagi perekonomian global. Tak hanya membuat membuat perekonomian turun dalam, serangan virus juga akan membuat tumpukan utang makin tinggi.

The Economist Intelligence Unit (The EIU) mengungkapkan bahwa negara-negara maju telah melakukan langkah-langkah fiskal yang luar biasa. Sejauh ini, negara-negara G20 telah mengumumkan program stimulus senilai sekitar US$11triliun atau hampir setara dengan gabungan ekonomi Jepang, Jerman, dan Prancis.

Baca Juga: Sri Mulyani Bicara Soal Utang Negara, Katanya...

Langkah-langkah fiskal ini telah membantu banyak perusahaan untuk tetap bertahan, mempertahankan pekerja, dan menstabilkan pasar keuangan. Namun, kebijakan itu juga akan mendorong defisit fiskal ke tingkat rata-rata 17% dari PDB di seluruh negara OECD.

Pada gilirannya, rasio utang publik terhadap PDB akan naik menjadi sekitar 140% dari PDB atau US$13.000 per kepala di negara-negara maju.

"Di masa lalu, tingkat utang yang tinggi seperti itu akan membuat khawatir para ekonom dan memicu diskusi panas tentang negara mana yang akan pertama kali mengalami krisis utang negara. Namun, tampaknya tidak lagi demikian," kata THE EIU seperti dikutip pada Rabu (4/11/2020).

Menurut EIU, ada dua faktor yang menjelaskan pergeseran ini. Pertama, pemerintah telah meminta bank sentral untuk membiayai pengeluaran mereka. Selama beberapa bulan terakhir, bank sentral AS, Jepang, zona euro, dan Inggris telah menciptakan US$3,7 triliun serta membuat cadangan uang baru untuk membeli obligasi pemerintah dan korporasi.

Kedua, terjadinya inflasi rendah yang berarti utang negara akan terkikis dari waktu ke waktu. Yang terpenting, hampir tidak ada biaya untuk dilunasi. Ada kekhawatiran di awal pandemi bahwa kekurangan barang atau gangguan rantai pasokan akan mendorong lonjakan harga.

Namun, inflasi tetap terkendali di negara-negara besar selama beberapa bulan terakhir. Dalam retrospeksi, ini tidak mengherankan bila dalam waktu yang tidak pasti seperti itu, konsumen lebih memilih untuk menabung daripada menghabiskan dan bisnis menunda investasi.

Berita Terkait

Video Pilihan

HerStory

Terpopuler

Terkini