Waspada! Ada Dugaan Buzzer Tunggangi Isu Boikot Produk Prancis

Waspada! Ada Dugaan Buzzer Tunggangi Isu Boikot Produk Prancis Kredit Foto: Unsplash/Alice Triquet

Ajakan memboikot produk asal Pancis makin masif. Asal tahu saja, itu terjadi akibat pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang menyinggung Islam.

Reaksi terhadap pernyataan Macron juga muncul di dalam negeri, baik dari beberapa politisi dan organisasi Islam. Bahkan, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akhirnya memanggil Duta Besar (Dubes) Prancis di Jakarta.

Sayangnya, di tengah polemik ini, diduga ada pihak yang berusaha mengambil keuntungan dengan menggerakkan buzzer untuk menyerang produk tertentu. Pengamat dan aktivis sosial media, Wicaksono menyatakan, upaya riding the wave alias menunggangi isu untuk mencari keuntungan komersial, sering ditemukan di jagat media sosial (medsos) Tanah Air.

Baca Juga: Dubes Prancis Rilis Pembelaan, Warganet Terang-Terangan Balas: Semua Umat Islam Marah!

Hal itu dia cuitkan lewat akun Twitter-nya, @ndorokakung dengan menyertakan tangkapan layar percakapan di grup Whatsapp soal "proyek" pemboikotan itu. "Info dari grup sebelah menunjukkan ada yang mau menunggang gelombang," cuitnya, Rabu (28/10/2020) .

Dalam percakapan WA grup tersebut, seseorang meminta izin untuk men-share atau membagikan kerjaan alias job. "Nyari akun Twitter buat kejar trending malam ini jam 7. Hashtag-nya panas, tentang boikot produk Prancis. Minimal followers 500. Butuh 150 ya," tulis orang tersebut.

Malam ini, tagar #aquaprodukprancis pun mulai bermunculan. Wicaksono pun mengingatkan buzzer maupun pengguna medsos agar berpikir dua kali untuk mencuitkan tagar tersebut. "Menyerukan tagar sih boleh saja, tapi kalau sampai menyebut brand tertentu, bisa menimbulkan kecurigaan aksi ini ditunggangi kompetitor, ye kan?" kicaunya lagi.

Wicaksono pun menyayangkan adanya penumpang gelap dalam isu ini. "Sangat disayangkan kalau isu yang ditunggangi yang sebenarnya isu organik, dipelintir menjadi senjata untuk menyerang merek atau produk tertentu, yang bisa mendorong persaingan tidak sehat," komentarnya.

Dia menyebut, fenomena seruan boikot atas produk sebuah negara, sering terjadi di Indonesia. Salah satu yang heboh pertengahan tahun ini adalah ajakan untuk memboikot produk Unilever lantaran perusahaan itu dianggap mendukung gerakan LGBT.

Wicaksono pun mengingatkan, walaupun ajakan tersebut hanya di medsos, tapi jika terbukti sebagai perbuatan tidak menyenangkan, bisa dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

"Tiati lo, nanti kalau-kalau ada yang lapor dengan tuduhan rekayasa isu dan perbuatan tidak menyenangkan, atau persekongkolan jahat berlatar belakang bisnis, bisa repot," wanti-wantinya.

Dia pun mengimbau warganet mempertimbangkan untuk mencuit soal tagar-tagar yang menyinggung nama perusahaan. "Jangan tergiur bayaran namun berurusan dengan hukum," tandas Wicaksono.

Beberapa warganet sepakat dengan Wicaksono. Salah satunya, @Elang326 yang mempertanyakan, kenapa hanya Aqua yang jadi sasaran warganet. "Iya ya kenapa hanya menyebutkan brand Danone Aqua? Kenapa nggak brand lain seperti LV,YSL dll?" tanya dia, curiga.

"Wah, kalau bener ini kok miris banget ya. Semoga teman-teman bisa lebih bijak pilih-pilih job. Apalagi menyangkut nama baik orang lain. #kamuketahuan #saveaqua," sambar @RiskaNgilan.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini