Apes Banget! Sudah Laba Turun, Rasio Kredit Bermasalah Maybank Pun Meroket

Apes Banget! Sudah Laba Turun, Rasio Kredit Bermasalah Maybank Pun Meroket Foto: Unsplash/Christoph Theisinger

PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) membukukan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) tetap sama yaitu sebesar Rp1,1 triliun per 30 September 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Laba sebelum pajak (PBT) turun sedikit sebesar 6,1% menjadi Rp1,5 triliun.

“Pengelolaan biaya secara disipilin, disertai dengan pertumbuhan yang solid di bisnis Syariah dan peningkatan pendapatan non bunga membantu mengurangi dampak volatilitas, disrupsi pasar dan total kredit yang lebih rendah sebagai akibat wabah Covid-19,” kata President Director of Maybank Indonesia Taswin Zakaria, dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Dimana, pendapatan non bunga Bank turun sebesar 7,1% menjadi Rp 1,7 triliun per September 2020. Tahun lalu, Bank menyertakan pendapatan one-off dari penyelesaian arbitrase domestik sebesar Rp101,0 miliar dan pendapatan terkait pajak sebesar Rp68,7 miliar.

Sejalan dengan itu, pendapatan non bunga rutin untuk sembilan bulan meningkat sebesar 2,2% terutama berasal dari fee terkait Global Market, bancasurrance, investasi dan transaksi e-channel. Fee terkait Global Market melonjak 85,3% menjadi Rp518,3 miliar pada September 2020, sementara fee Bancassurance dan Wealth Management terus bertumbuh dan membukukan peningkatan 26,7% menjadi Rp210,6 miliar dari Rp166,2 miliar tahun sebelumnya.

Baca Juga: Masih Menggiurkan, Maybank Asset Management Luncurkan Reksa Dana Obligasi Pemerintah 

Sementara itu, profil pendanaan Bank terus menguat dengan rasio CASA meningkat dari 36,4% pada September 2019 menjadi 39,7% pada September 2020, didukung kenaikan rekening giro 13,4% dan rekening tabungan 5,9%.Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit (LDR bank saja) berada pada tingkat yang sehat sebesar 80,7%, sementara rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR bank saja) tercatat sebesar 178,6% per September 2020, jauh di atas ketentuan minimum sebesar 100%.

Menurut Taswin, bank memberikan fokus pada transformasi digital yang tengah berjalan dengan meningkatkan dan menyempurnakan layanan digital banking.Meskipun masih dalam tahap awal proses transformasi, digital banking telah mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam akuisisi nasabah dan jumlah serta volume transaksi.

“Transaksi finansial yang dilakukan melalui aplikasi Maybank2U (M2U) meningkat 132% menjadi 7,8 juta transaksi selama kuartal pertama hingga kuartal ketiga 2020, sementara lebih dari 60.000 rekening tabungan/simpanan dibuka dan lebih dari 76.000 rekening didaftar melalui M2U,” terangnya.

Ia menjelaskan jika M2U tidak hanya memberikan proses pembukaan rekening yang mudah tetapi juga cepat, serta menawarkan fitur gaya hidup yang bebas repot dan nyaman digunakan seperti QR Pay, KYC digital untuk pembukaan rekening baru, saluran donasi, dan fitur menarik lainnya.

Baca Juga: Semester I, Kredit Maybank Indonesia Turun 14,6%

Sebagaimana dialami industri perbankan, Bank mencatat penurunan Pendapatan Bunga Bersih sebesar 8,4% menjadi Rp5,6 triliun yang terutama disebabkan oleh total outstanding pinjaman dan imbal hasil yang lebih rendah sebagai akibat dari penurunan suku bunga, serta dampak dari proses restrukturisasi pinjaman yang sedang berlangsung untuk nasabah yang terdampak pandemi.Marjin Bunga Bersih/Net Interest Margin sebesar 4,69% per September 2020 dibandingkan 4,97% pada September 2019.

Bank mampu mengelola biaya overhead secara efektif dan mencatat penurunan sebesar 9,0% menjadi Rp4,4 triliun pada September 2020 sehubungan inisiatif pengelolaan biaya yang berkelanjutan di seluruh organisasi ditambah dengan pengurangan biaya umum dan administrasi sehubungan dengan pelaksanaan inisiatif work from home selama pandemi.

Tingkat Non-Performing Loan (NPL) Bank berada pada 4,3% (gross) dan 2,8% (net) per September 2020 dibandingkan 2,6% (gross) dan 1,5% (net) per September 2019.Hal ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya total outstanding kredit pada September 2020 dan dampak situasi pandemi saat ini yang mempengaruhi beberapa rekening.Bank terus menempuh langkah proaktif untuk membantu nasabah menghadapi tantangan dan fokus pada restrukturisasi kredit untuk menjaga kualitas aset.Langkah ini mulai memperlihatkan penurunan NPL (gross) secara kuartalan menjadi 4,3% pada September 2020 dibandingkan 5,0% pada Juni 2020. Maybank telah sepenuhnya menerapkan standar akuntansi baru PSAK 71 atau IFRS 9 yang berlaku mulai tahun ini.

Posisi modal Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,5% pada September 2020 dibandingkan dengan 20,1% tahun lalu dan total modal sebesar Rp26,7 triliun pada September 2020.

Adapun, laba sebelum pajak Perbankan Syariah naik sebesar 35,1% menjadi Rp332,2 miliar di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.Hal ini didukung oleh fokus berkelanjutan yang dilakukan untuk meningkatkan pendanaan yang lebih efisien dan mengurangi simpanan berbiaya tinggi.Total simpanan nasabah naik 4,2% menjadi Rp27,5 triliun pada September 2020.

“Total pembiayaan Perbankan Syariah (termasuk portofolio Kafalah) meningkat 1,9% menjadi Rp25,4 triliun pada September 2020.Sementara, total aset per September 2020 naik 7,2% menjadi Rp35,8 triliun dibandingkan Rp33,4 triliun tahun lalu, menyumbang 20,2% total aset Bank,” tutupnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini