Era Normal Baru, Perusahaan Pembiayaan Wajib Terapkan Digitalisasi

Era Normal Baru, Perusahaan Pembiayaan Wajib Terapkan Digitalisasi Foto: Sufri Yuliardi

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, menilai perusahaan pembiayaan harus menerapkan digitalisasi dan melakukan efisiensi di era kenormalan baru pandemi Covid-19. Bila tak melakukan itu, bisa dipastikan mereka tidak akan mampu bertahan di masa pandemi ini.

Dia bercerita, banyak yang mengira bahwa virus Covid-19 tidak akan bertahan lama di Indonesia. Namun, faktanya hingga kini penyebaran kasus positif Covid-19 terus mengalami peningkatan sejak diumumkan akhir Maret 2020 lalu.

"Sudah hampir lebih dari 7 bulan kita semua merasakan tekanan-tekanan, hambatan-hambatan yang kita hadapi terkait perkembangan usaha khususnya perusahaan pembiayaan. Pada saat diumumkan kita semua mengira bahwa covid-19 tidak akan brlangsung lama, namun saat ini situasinya berbeda kita semua harus mulai berubah dan bisa bertahan," ujar Suwandi dalam sambutannya pada acara Indonesia Best Multifinance Award 2020 yang digelar Warta Ekonomi secara virtual di Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Baca Juga: Selamat! Berikut Daftar Pemenang Indonesia Best Multifinance Award 2020

Menurutnya, dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan perusahaan pembiayaan. "Karena suka atau tidak suka tahun 2020 adalah tahun yang pertama kali perusahaan pembiayaan mengalami satu kontraksi pertumbuhan negatif dimana total piutang pembiayaan kita sampai Agustus 2020 kita minus 12,86% (yoy). Pembiayaan investasi mempunyai kontribusi cukup besar yakni sebesar minus 12,24%, serta pembiayaan multiguna minus 13,4%," jelasnya.

Merosotnya piutang pembiayaan, lanjut Suwandi karena industri otomotif juga terpukul akibat pandemi Covid-19 dimana penjualan kendaraan bermotor turun signifikan terutama di bulan April dan Mei 2020. Untuk diketahui, mayoritas portofolio perusahaan pembiayaan adalah di sektor otomotif.

"Pada saat Covid-19 diumumkan penjualan mobil hanya 10% dari rata-rata penjualan normal. Penjualan sepeda motor sempat turun lebih dari 80%. Industri pembiayaan sangat tergantung pada industri otomotif karena portofolio perusahaan pembiayaan 65% didominasi pembiayaan kendaraan bermotor," tukasnya.

Oleh sebab itu, saat inilah perusahaan pembiayaan harus mulai menata apa yang harus dilakukan ke depan dalam situasi kenormalan baru.

"Situasi ini mnyebabkan digitalisasi tidak bisa dihindarkan, efisiensi biaya-biaya harus kita lakukan semua. Dan ini masih akan panjang apalagi kita dengar OJK akan memperpanjang program restrukturisasi kredit," ucapnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini