Tak Terima Umat Islam Dihina, Erdogan Bilang Presiden Prancis Sakit Mental

Tak Terima Umat Islam Dihina, Erdogan Bilang Presiden Prancis Sakit Mental Foto: Reuters/Bernadett Szabo

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyebut Presiden Prancis, Emmanuel Macron adalah orang yang membutuhkan perawatan mental. Pernyataan ini disebut dalam pidatonya karena sikap Macron terhadap Muslim dan Islam.

Seperti diketahui, sejak awal bulan ini, Macron berjanji untuk melawan "separatisme Islam", yang disebutnya mengancam  mengambil kendali di beberapa komunitas Muslim di sekitar Prancis.

Sikap Macron ini dimulai sejak kasus pemenggalan seorang guru sejarah oleh seorang radikal Islam, yang ingin membalas penggunaan kartun Nabi Muhammad oleh guru tersebut di kelas untuk kebebasan berekspresi.

Baca Juga: Eropa Kacau, Karikatur Nabi Kembali Dimuat di Media Perancis

"Apa masalah orang bernama Macron ini dengan Muslim dan Islam? Macron membutuhkan perawatan pada tingkat mental," kata Erdogan dalam pidatonya di kongres provinsi Partai AK di kota Kayseri, Turki tengah dilansir dari reuters, Sabtu (24/10).

"Apa lagi yang bisa dikatakan kepada seorang kepala negara yang tidak memahami kebebasan berkeyakinan dan yang berperilaku seperti ini kepada jutaan orang yang tinggal di negaranya yang merupakan anggota dari agama yang berbeda?"  tambah Erdogan.

Erdogan adalah seorang Muslim yang saleh dan memimpin Turki sejak Partai AK yang bernafaskan Islam pertama kali berkuasa pada tahun 2002. Ia juga telah berusaha untuk mengubah Islam menjadi arus utama politik di Turki, sebuah negara yang mayoritas Muslim tetapi sekuler.

Baca Juga: Teriak Lantang Erdogan: Anda Tahu Kenapa Turki Berpihak ke Azerbaijan?

Presiden Turki tersebut mulai bereaksi sejak 6 Oktober lalu setelah komentar awal Macron tentang "separatisme Islam". Menurutnya, pernyataan itu adalah "provokasi yang jelas" dan menunjukkan "ketidaksopanan" pemimpin Prancis kepada Islam.

Turki dan Prancis adalah anggota NATO tetapi telah berselisih mengenai berbagai masalah termasuk kebijakan di Suriah dan Libya, yurisdiksi maritim di Mediterania timur dan konflik di Nagorno-Karabakh.

Erdogan dan Macron sempat membahas ketidaksepakatan mereka dalam panggilan telepon bulan lalu dan setuju untuk meningkatkan hubungan dan menjaga saluran komunikasi tetap terbuka.

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini