Hadapi China, AS Setuju Jual Senjata ke Taiwan hingga Puluhan Triliun

Hadapi China, AS Setuju Jual Senjata ke Taiwan hingga Puluhan Triliun Kredit Foto: Antara/REUTERS/Ann Wang

Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) menyetujui kemungkinan penjualan tiga sistem senjata ke Taiwan. Termasuk sensor, rudal, dan artileri. Nilainya, mencapai 1,8 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 26,4 triliun.

Berdasarkan laporan dari kantor berita Reuters, Gedung Putih juga telah menyetujui lima penjualan terpisah peralatan militer canggih ke Taiwan. Dengan nilai total sekitar 5 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 73,4 triliun.

Baca Juga: Perang China-Taiwan Tinggal Hitungan Hari?

Penjualan senjata itu disetujui pemerintahan Trump, salah satunya karena ingin meningkatkan tekanan terhadap China di tengah kekhawatiran atas aksi negara itu terhadap Taiwan.

Dari laporan Deplu AS kepada Kongres, sistem persenjataan tersebut yakni, 11 peluncur roket berbasis truk yang dibuat Lockheed Martin. Senjata itu juga disebut sebagai Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS). Nilainya sekitar 436,1 juta dolar AS atau setara dengan Rp 6,4 triliun.

Persetujuan itu juga mencakup 135 rudal Standoff Land Attack Missile Expanded Response (SLAM-ER), dan peralatan terkait yang dibuat Boeing, dengan perkiraan nilai sekitar 1,008 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 14,8 triliun.

Selain itu, ada juga enam pod sensor eksternal MS-110 Recce, yang dibuat Collins Aerospace untuk jet tempur. Perkiraan harganya 367,2 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,3 triliun.

Pemberitahuan lebih lanjut dari Kongres, mungkin bakal diumumkan pada Rabu (22/10) waktu AS. Termasuk drone yang dibuat General Atomics dan rudal anti-kapal Harpoon berbasis darat, yang dibuat oleh Boeing. Senjata-senjata itu berfungsi sebagai rudal jelajah pertahanan pantai.

Sebuah sumber mengatakan, 100 stasiun rudal jelajah dan 400 rudal bernilai sekitar 2 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 29,3 triliun juga masuk bagian yang akan ditransaksikan. Sebelumnya, September lalu Reuters pertama kali melaporkan, bahwa penjualan sistem senjata utama ke Taiwan sedang melalui proses ekspor dari AS.

Setelah mendapatkan pemberitahuan resmi, Kongres AS punya waktu 30 hari untuk menyetujui atau menolak rencana penjualan tersebut. Tapi hal itu tidak dilakukan, karena AS berupaya mendukung secara luas terhadap sistem pertahanan Taiwan.

Kementerian Pertahanan dan Luar Negeri Taiwan pun menyambut baik kabar ini. Taiwan menyebut, senjata itu akan membantu meningkatkan kemampuan pertahanan negaranya.

Dalam pernyataannya, kementerian Pertahanan Taiwan menyebut, penjualan senjata ini menunjukkan bahwa AS sangat mementingkan posisi strategis kawasan Indo-Pasifik dan Selat Taiwan.

"AS secara aktif membantu negara kami memperkuat kemampuan pertahanan secara keseluruhan," bunyi pernyataan itu.

Hingga saat ini, China menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya. Karena itu, China akan melakukan cara apapun, termasuk dengan kekerasan, agar Taiwan tunduk pada China.

Sedangkan AS menganggap Taiwan sebagai pos terdepan demokrasi yang penting. Hukum AS pun mewajibkan negara itu menyediakan sarana mempertahankan diri.

Terkait hal ini, Kedutaan China belum memberikan tanggapannya. Tapi pekan lalu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan, penjualan senjata AS ke Taiwan sangat merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan China. Mereka juga mendesak AS membatalkan rencana penjualan senjata ke Taiwan.

Pemerintah AS belakangan makin meningkatkan tekanan terhadap China, terutama menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) AS, 3 November nanti. Presiden Donald Trump yang juga kembali bertarung di Pilpres itu, bahkan menjadikan kebijakannya yang keras ke China sebagai tema kebijakan luar negeri utama.

AS sangat ingin melihat Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanannya dalam menghadapi gerakan China, yang semakin agresif mengintimidasi Taiwan. Pekan lalu, Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert O Brien mengatakan, untuk saat ini China mungkin belum siap menyerang Taiwan.

Tapi, menurutnya, pulau itu perlu membentengi dirinya sendiri dari serangan di masa depan, atau upaya apa pun untuk mengisolasi melalui non-militer, seperti embargo.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini