Nanti Kepulangan Habib Rizieq, Refly Harun: Revolusi Mental!

Nanti Kepulangan Habib Rizieq, Refly Harun: Revolusi Mental! Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Ahli hukum tata negara Refly Harun mengaku secara pribadi menunggu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, pulang ke Tanah Air.

Dalam salah satu bagian videonya, Refly berharap revolusi akhlak benar-benar terjadi.

Baca Juga: Rocky Gerung: Habib Rizieq Adalah Fakta Politik

"Saya pribadi, dan kita semua, saya tidak tahu ya, menunggu Habib Rizieq pulang," kata Refly Harun dalam video berjudul 'SIAP-SIAP!! REVOLUSI HABIB RIZIEQ!!' yang tayang di Channel YouTube Refly Harun, dikutip Kamis (22 Oktober 2020).

Namun, kata Refly, dia menanti Habib Rizieq pulang bukan karena dia mengagumi Habib Rizieq. Menurutnya, ini lebih karena hak warga negara untuk bisa menginjakkan kaki di negaranya sendiri dan untuk bertemu kerabatnya.

"Itu adalah hak asasi manusia. Sebagai warga negara dia tidak boleh kehilangan haknya untuk menginjak bumi ini."

"Kalau ada permasalahan dengan pemerintahan Arab Saudi, harusnya pemerintah kita turun tangan untuk menyelesaikannya karena tidak boleh membiarkan warga negara terkatung-katung di luar negeri, seperti stateless saja, seperti tidak ada pemerintah saja, seperti tidak ada kewarganegaraan saja. tidak boleh," paparnya.

Refly juga mengatakan menunggu peran dan partisipasi Habib Rizieq dalam membangun bangsa ini.

"Siapa tahu, ada shifting mentality, dia menyelesaikan ruang kosong yang ditinggalkan oleh Presiden Jokowi karena sudah meninggalkan tagline 'revolusi mental'. Ya revolusi mental, revoluasi akhlak, kurang lebih sama," ujarnya.

Hal yang penting adalah, lanjut dia, dalam revolusi itu, kita menginginkan pemimpin yang amanah, pemimpin yang jujur, pemimpin yang mengejawantahkan pesan konstitusional kita untuk melindungi segenap bangsa, mencerdaskan segenap bangsa, menyejahterakan mereka agar mereka ikut dalam perdamaian dunia.

"Indonesia menjadi bagian dari perdamaian dunia, menjadi bagian dari kesejahteraan dunia, bukan negara peminta, tapi negara yang pemberi," katanya.

Lihat Sumber Artikel di Pikiran Rakyat Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Pikiran Rakyat. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Pikiran Rakyat.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini