Kisah Perusahaan Raksasa: Gazprom, Taipan Migas Kaya Raya Warisan Uni Soviet

Kisah Perusahaan Raksasa: Gazprom, Taipan Migas Kaya Raya Warisan Uni Soviet Kredit Foto: Shutterstock

Minyak tetap menjadi sumber energi dominan di seluruh dunia. Pasalnya, industri ini didorong oleh perusahaan minyak raksasa yang memberi makan miliaran barel minyak setiap hari kepada ekonomi yang haus energi.

Terlepas dari kekhawatiran publik atas perubahan iklim, bisnis ini tetap berjalan. Namun pihak yang berseberangan masih bergerak untuk mengurangi penggunaan bahan bakar berbasis karbon, seperti minyak. 

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: China Railway Construction, Kontraktor Top China yang Kekayaannya USD120 T

Yang pasti, harga minyak dunia telah mengalami kecenderungan mudah berubah hingga masuk ke kondisi ekstrem pada 2020. Akibat memburuk dan semakin tegangnya perdagangan, juga akibat pandemi virus corona atau Covid-19 yang sejak awal tahun menyebar ke seluruh dunia.

Meski begitu, banyak perusahaan minyak terkemuka dunia masih menghasilkan pendapatan yang signifikan. Perusahaan China dan Amerika Serikat (AS) merupakan separuh dari 10 perusahaan pemain utama antara lain Arab Saudi, Rusia, dan Eropa. 

dsc1707_edit.jpg

Salah satu perusahaan minyak raksasa yang tengah berjuang adalah Gazprom. Salah satu perusahaan minyak dan gas alam terbesar berbasis di Rusia ini mengendalikan seperempat dari cadangan gas alam dunia yang diketahui. Ia juga menyumbang 8 persen dari produk domestik bruto (PDB) Rusia. 

Rusia memegang 38 persen saham di Gazprom. Tak cuma itu, Moskow diketahui mengendalikan mayoritas kursi di dewan direksi perusahaan. Fakta ini menampilkan keterlibatan politik yang sangat tinggi di Gazprom.

Gazprom diduga menerima perlakuan khusus dari Kremlin. Sebagai gantinya, negara menggunakan pengaruh dan asetnya yang cukup besar untuk kepentingan pemerintah. 

Selain itu, raksasa migas Rusia ini tidak hanya memiliki kepentingan yang sangat besar bagi Ekonomi negara, tetapi ketergantungan asing pada gas Rusia, terutama di negara-negara bekas Uni Soviet memungkinkan Gazprom digunakan secara eksternal sebagai alat diplomatik.

Jika ditilik dari sisi finansial, Gazprom tengah dalam posisi terpuruk pada 2020 ini. Penurunan pendapatan sekitar 10 persen dengan perolehan 118 miliar dolar AS membuat posisinya turun 13 peringkat ke nomor 55 dalam Global 500 Fortune. Sayangnya, hal ini diperparah dengan penurunan hampir 20 persen dalam keuntungannya yakni hanya sebesar 18,59 miliar dolar per tahun. 

Padahal setahun ke belakang, Gazprom duduk nyaman di peringkat 42 Global 500. Capaian ini disokong oleh pendapatan senilai 131,30 miliar dolar AS, dan laba bersih yang mencapai 23,19 miliar dolar.

Asal usul perusahaan raksasa Gazprom banyak dibumbui dengan aksi-aksi politik Kremlin dan berbagai bentrok. Berbekal sumber relevan, Warta Ekonomi pada Kamis (22/10/2020) ini siap mengulas kisah raksasa ini menjadi artikel sebagai berikut. 

adlerskaja_tes.png

Jika ditarik ke belakang, Gazprom berawal dari masa Uni Soviet. Di era ini, banyak jaringan pipa dikembangkan di bawah suksesi kementerian gas negara. Cadangan gas alam Rusia pertama kali dieksploitasi dalam skala besar tak lama setelah Perang Dunia II. Fasilitas yang pertama adalah pipa sepanjang 843 kilometer dibangun dari Saratov (hilir Sungai Volga) menuju Moskow. Keberhasilan ini mengantar Rusia untuk lebih banyak membangun fasilitas pipa di dekade 1950-an.

Tak lama kemudian, sebagian besar rumah di kota-kota besar Uni Soviet terhubung dengan gas alam. Itu artinya masyarakat dan negara telah mengurangi ketergantungan pada kayu dan batu bara untuk energi dan kereta api.

Pada akhir dekade 1960-an, industri gas membuat kemajuan besar. Negara mulai memanfaatkan cadangan gas alam yang sangat besar di Siberia bagian barat. Meski ada tantangan untuk bekerja dalam kondisi beku kutub, pipa berhasil dibangun dari ladang gas Urengoi ke Moskow. 

Saking besarnya cadangan minyak yang dimiliki, Uni Soviet mulai melakukan ekspor ke Eropa barat pada 1970, ketika agen ekspor negara menandatangani kontrak untuk memasok gas alam ke perusahaan Jerman Barat, Ruhrgas. Gas Rusia pertama mencapai Jerman pada 1973. Perusahaan Barat kedua yang membeli gas Rusia adalah Fortum of Finland, yang memulai kontrak pada 1970-an. 

Ekspor, terutama ke Jerman, meningkat selama dekade-dekade berikutnya. Pada 1982 Soyuzgasexport, badan pengekspor kementerian gas, menandatangani kontrak untuk membangun pipa 5.000 km dari ladang gas Urengoi ke perbatasan Jerman Barat. Pipa tersebut diproyeksikan membawa 40 miliar meter kubik gas per tahun ke Eropa Barat.

Pada 1980-an pengembangan ladang gas Siberia barat dilanjutkan dengan pembukaan cadangan Yamburg yang ekstensif. Eksplorasi menunjukkan banyak cadangan gas besar yang belum dimanfaatkan di daerah tersebut. 

Ketika proyek eksperimental yang berkaitan dengan minyak mentah dan tenaga nuklir tersendat, sumber daya gas alam Uni Soviet yang sangat besar menjadi semakin penting. Pada saat pecahnya Uni Soviet pada 1991, jelas terlihat bahwa gas alam akan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi masa depan Rusia, serta dalam mendukung ekonomi kapitalis baru negara tersebut.

4.jpg

Di pengujung dekade 1980-an, perubahan besar terjadi. Kementerian Industri Gas pada 1989 diubah namanya menjadi perusahaan gas negara, Gazprom. Nama "Gazprom" berasal dari singkatan dari kata Rusia untuk "industri gas". Menteri Viktor Chernomyrdin menjadi pimpinan utama dan CEO. 

Setelah pecahnya Uni Soviet pada 1991, keputusan pemerintah memberlakukan privatisasi Gazprom. Dekrit presiden 5 November 1992 menyerukan pembentukan sebuah perusahaan untuk mengeksplorasi dan memproduksi gas serta membangun jaringan pipa. Anggaran dasar untuk perusahaan disetujui oleh Dewan Menteri pada 17 Februari 1993. 

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini