Setelah Dilebur Punya Aset Rp214 T, Segini Sebenarnya Harga Pasaran BRIS, BNIS, dan BSM

Setelah Dilebur Punya Aset Rp214 T, Segini Sebenarnya Harga Pasaran BRIS, BNIS, dan BSM Foto: Antara/Hafidz Mubarak A

Rencana penggabungan (merger) bank-bank BUMN Syariah yakni PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS) masih terus dikejar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) akan menjadi induk dari bank syariah BUMN dengan mengempit sebanyak 51,2% saham, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) akan mendapat jatah 25%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI Saham Syariah 2% dan publik 4,4%.

Setelah dilebur, total aset dari Bank Syariah BUMN nantinya akan mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Lalu sebenarnya berapakah harga (market value) yang wajar dari tiga Bank Syariah BUMN tersebut sebelum digabungkan?

Baca Juga: Erick Nafsu Buat Bank Syariah Besar, Gak Mau Kalah Sama Malaysia Ya?

Dalam prospektus ringkasan rancangan penggabungan antara BRISyariah, BSM dan BNIS yang diterbitkan dibeberkan bahwa berdasarkan laporan penilaian tertanggal 8 Oktober 2020, No.00368/2.0059-02/BS/07/0242/1/X/2020, KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan berpendapat bahwa nilai pasar wajar dari 100,00% ekuitas BRIS pada tanggal 30 Juni 2020 adalah sejumlah Rp7,59 triliun atau setara dengan Rp781,29 per saham.

Sementara itu, berdasarkan laporan penilaian tertanggal 8 Oktober 2020, No.00086/2.0162-00/BS/07/0153/1/X/2020, KJPP Kusnanto dan Rekan berpendapat bahwa nilai pasar wajar dari 100,00% ekuitas BSM pada tanggal 30 Juni 2020 adalah sejumlah Rp16,33 triliun atau setara dengan Rp27.321,67 per saham.

Lalu, berdasarkan laporan penilaian tertanggal 8 Oktober 2020, No.00272/2.0047-05/BS/09/00465/1/X/2020, KJPP Iwan Bachron dan Rekan berpendapat bahwa nilai pasar wajar dari 100,00% ekuitas BNIS pada tanggal 30 Juni 2020 adalah sejumlah Rp7,99 triliun atau setara dengan Rp2.734.726,87 per saham. 

Baca Juga: Sah! Bank Mandiri Jadi Bapaknya Bank Syariah BUMN

Penilaian tersebut dengan asumsi bahwa kegiatan usaha ketiganya berlangsung secara kesinambungan (going concern) dan dengan memperhatikan asumsi dan kualifikasi yang dinyatakan dalam laporan.

Dengan adanya merger Bank Ssyariah BUMN, Indonesia pun ditargetkan memiliki Bank Syariah terbesar pada Februari 2021 mendatang. Bank Hasil Penggabungan juga akan masuk ke dalam TOP 10 Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan TOP 10 Bank Syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar. Bank Hasil Penggabungan akan tetap menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS.

Hery Gunardi, Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN sekaligus Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengatakan seluruh proses dan tahapan-tahapan setelah Ringkasan Rencana Merger tersebut akan terus dikawal hingga tuntasnya integrasi ketiga bank peserta penggabungan.

“Integrasi ini lebih dari sekadar corporate action. Mengawal dan membesarkan bank syariah terbesar di negeri ini sesungguhnya adalah amanah yang besar. Saya, mewakili PMO, diamanahkan oleh Pemerintah melalui Kementerian BUMN untuk terus mengawal tidak hanya sampai legal merger, tapi juga memastikan hadirnya bank syariah nasional terbesar ini benar-benar dapat memberikan manfaat bagi orang banyak dan membawa nama Indonesia ke kancah global sebagai pusat ekonomi syariah dunia,” ungkap Hery.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini