Tantang Pemerintah, Puluhan Ribu Rakyat Thailand Ikuti Demonstrasi

Tantang Pemerintah, Puluhan Ribu Rakyat Thailand Ikuti Demonstrasi Foto: Antara/REUTERS/Jorge Silva

Puluhan ribu pengunjuk rasa pro-demokrasi kembali berkumpul di ibu kota Thailand, Bangkok pada Kamis (15/10/2020), yang merupakan bentuk pembangkangan terhadap pemerintah yang telah mengeluarkan perintah darurat melarang demonstrasi.

Diwartakan BBC, para pengunjuk rasa bersorak dan bernyanyi dengan damai menyerukan pembebasan setidaknya 20 aktivis yang ditangkap pada Kamis dalam tindakan keras besar-besaran. Banyak yang memberi hormat dengan tiga jari, simbol gerakan protes.

Baca Juga: Rakyatnya Turun ke Jalan, PM Thailand Kembali Pakai Jurus Tangan Besi

"Seperti anjing yang terpojok, kami berjuang sampai kematian kami," kata Panupong Jadnok, salah satu pemimpin protes yang masih bebas, kepada kerumunan pengunjuk rasa. "Kami tidak akan mundur. Kami tidak akan lari. Kami tidak akan pergi kemana-mana."

Para demonstran akhirnya bubar beberapa jam setelah di mulainya jam malam baru pukul 6 sore. Mereka Setelah meninggalkan lokasi demonstrasi dengan damai di Persimpangan Ratchaprasong Bangkok, para pengunjuk rasa berjanji untuk kembali pada Jumat (16/10/2020) pukul 17:00 waktu setempat.

Pekan ini demonstrasi pertama dari gerakan protes terhadap pemerintah dan kerajaan dimulai ketika Raja Maha Vajiralongkorn berada di Thailand. Raja Maha Vajiralongkorn, yang sekarang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri, telah kembali dari Jerman selama beberapa minggu.

Pada Kamis dini hari, pemerintah telah berusaha untuk membatasi gerakan protes yang dipimpin mahasiswa dengan mengeluarkan keputusan darurat yang melarang pertemuan lebih dari empat orang dan menangkap sekitar 20 aktivis, menjadikan jumlah total penangkapan pekan ini mencapai 40.

Beberapa pemimpin kunci protes termasuk di antara mereka yang ditangkap, termasuk pengacara hak asasi manusia Anon Nampa, aktivis mahasiswa Parit Chiwarak, dan Panusaya Sithijirawattanakul.

Gerakan protes yang mereka pimpin dimulai dengan menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dan sejak itu telah berkembang dengan menyerukan pembatasan atas kekuatan raja.

Seruan untuk reformasi kerajaan sangat sensitif di Thailand, di mana kritik terhadap monarki dapat dihukum dengan hukuman penjara yang lama.

Lihat Sumber Artikel di Okezone Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Okezone. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Okezone.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini