Lima BUMN Garap Proyek Infrastruktur Kongo Senilai Rp174 Triliun

Lima BUMN Garap Proyek Infrastruktur Kongo Senilai Rp174 Triliun Foto: Sufri Yuliardi

Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia bersama perusahaan rekan TSG Global Holdings dan perwakilan pemerintah Republik Demokratik (RD) Kongo menandatangani kontrak pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur di RD Kongo pada Rabu (14/10/2020).

Perjanjian tersebut menyepakati pembangunan Kinshasa-Loop Line yang menghubungkan Bandar Udara Internasional Ndjili di Kinshasa, commuter line yang mengelilingi Kota Kinshasa, serta pengadaan bus elektrik beserta tempat pengisian daya.

Baca Juga: Erick Thohir: Bio Farma Perusahaan BUMN Berkualitas Dunia

Terdapat pula rencana untuk membangun Aero City di kawasan bandara, pembangunan jaringan kabel serat optik, dan fasilitas pelabuhan. Seluruh kesepakatan tersebut diperkirakan bernilai lebih dari US$11,8 miliar atau setara Rp174 triliun.

"Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani pada bulan Agustus 2020 lalu," papar Direktur Utama INKA, Budi Noviantoro, dalam sambutannya. Budi menambahkan, investasi fase pertama dari keseluruhan proyek tersebut akan bernilai US$2 miliar atau senilai Rp29 triliun.

Berbagai BUMN Indonesia berkolaborasi untuk megerjakan proyek-proyek investasi tersebut. PT INKA akan mengerjakan loop line, commuter line, dan bus elektrik; PT LEN Industri akan menangani pembangunan jaringan kabel serat optik; PT Merpati Nusantara Airlines dan PT Dirgantara Indonesia akan membangun Aero City.

Sementara itu, PT Barata Indonesia akan membangun infrastruktur smart city dan fasilitas pelabuhan. "Ke depannya, proyek-proyek ini diharapkan akan menjadi pintu masuk BUMN Indonesia ke RD Kongo maupun ke Afrika secara keseluruhan," ucap Budi.

Sekadar informasi, komitmen proyek ini merupakan kelanjutan dari komitmen sebelumnya. Pada bulan Agustus 2020, telah dilakukan groundbreaking proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) oleh PT INKA, PT LEN Industri, dan PT Barata Indonesia di RD Kongo.

Kapasitas panel surya yang akan dibangun adalah sebesar 100 MW dari rencana total kapasitas sebesar 200 MW. Pembangunan PLTS tersebut merupakan bagian dari proyek besar yang disebut "Kinshasa Solar City" yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik Ibu Kota RD Kongo akan energi terbarukan.

Kinshasa merupakan salah satu kota terbesar di Afrika dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Saat ini, jumlah penduduk kota tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding masa kemerdekaan RD Kongo pada tahun 1960, menjadi 15 juta orang. Kota tersebut belum memiliki infrasturktur penunjang yang cukup.

"Kami perlu mencari alternatif solusi untuk rakyat," jelas Gubernur Kinshasa, Gentiny Ngobila Mbala.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini