Pasar Bergejolak Jelang Penentuaan Nasib Trump, Ini Strategi Investasi Kala Ketidakpastian Pasar

Pasar Bergejolak Jelang Penentuaan Nasib Trump, Ini Strategi Investasi Kala Ketidakpastian Pasar Foto: Freepik

Ketidakpastian pasar masih cukup tinggi dan diprediksi masih akan menghadapi volatilitas akibat dari risiko geopolitik yakni pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada November mendatang. Strategi terhadap investasi dibutuhkan bagi investor untuk menurunkan risiko investasi.

Kondisi ekonomi global saat ini masuk tahap pemulihan setelah pada semester pertama tahun 2020 menghadapi pukulan yang berat akibat pandemi Covid-19. Dengan dilakukannya pelonggaran pembatasan wilayah dan pembukaan kembali bisnis, roda ekonomi sudah berangsur bergerak kembali.

Begitu pula dengan kondisi ekonomi domestik, Kementerian Keuangan pada akhir September lalu memproyeksikan ekonomi kuartal III masih terkontraksi sekitar -2,9% hingga -1,0%, walaupun masih terkontraksi namun sudah tidak sedalam kuartal II yang terkontraksi -5,32% YoY.

Baca Juga: Intip! Strategi BI Bakal Jadikan Indonesia Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Global

"Hal ini menandakan adanya pemulihan. Selain itu, pada kuartal III ini juga pemerintah Indonesia berusaha untuk memberikan stimulus mendorong ekonomi Indonesia bertumbuh positif dari sebelumnya,” jelas CEO Mandiri Investasi Alvin Pattisahusiwa dalam acara Market Update online yang diadakan untuk nasabah Premier Banking Bank Commonwealth, hari ini.

Alvin menambahkan, risiko yang perlu dicermati investor pada kuartal terakhir di tahun 2020 ini adalah penyelenggaraan pemilu di AS. Menurut perusahaan jasa investasi AS Blackrock, volatilitas pasar saham, terutama di AS, cenderung meningkat mendekati penyelenggaraan pemilu AS. Siapa presiden berikutnya yang akan terpilih dan partai apa yang akan menguasai Kongres di AS menambah ketidakpastian di pasar pada kuartal IV ini, di tengah kondisi global yang terdampak akibat pandemi.

Berdasarkan riset dari riset dari Morgan Stanley, pemerintahan (Presiden, Senat dan House) Amerika Serikat (AS) yang dikuasai oleh satu partai, cenderung akan memberikan dampak positif terhadap ekonomi AS, karena kemungkinan pemerintah AS akan membelanjakan anggaran negaranya secara agresif dan juga akan mendorong penguatan mata uang AS.

Sementara, pemerintahan yang terbagi dianggap kurang baik bagi ekonomi AS karena akan lebih banyak menghadapi tantangan dari oposisi, sehingga aliran dana kemungkinan dapat keluar dari AS menuju tempat investasi yang lebih menarik seperti emerging market.

“Secara historis, menurut riset dari Barclays, kemenangan Partai Demokrat di AS direspon lebih negatif oleh pelaku pasar saham di AS dan mulai membaik enam bulan setelah pemilu. Dari sisi volatilitas, secara historis juga, volatilitas pasar saham lebih tinggi ketika partai Demokrat menduduki kursi presiden dan volatilitas menjadi lebih stabil dalam waktu 2-3 bulan pasca pemilihan,” jelas Alvin.

Baca Juga: Saat Kontraksi Ekonomi, Apa Alternatif Investasi yang Menarik Dilirik?

Dengan kondisi seperti itu, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menyarankan agar investor melakukan diversifikasi portofolio investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing untuk menurunkan risiko terhadap investasi.

“Investor dapat memilih untuk berdiversikasi secara geografis alokasi investasi ke luar Indonesia melalui reksa dana saham offshore syariah. Melalui reksa dana ini, investor dapat mendiversifikasi investasinya ke negara maju seperti AS, China, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya,” kata Ivan.

Berdasarkan, riset dari perusahaan jasa keuangan multinasional Charles Schwab, lanjut Ivan, secara historis, meskipun meningkatkan ketidakpastian, tahun penyelenggaraan pemilu di AS mencatatkan tren positif bagi pasar saham AS. Kinerja S&P 500 yang dilacak sejak 1928, dari 17 dari 23 tahun pemilu (74%) mencatatkan pertumbuhan positif dengan rata-rata sebesar 7,1%.

Sementara diversifikasi ke pasar selain Indonesia dan AS yakni China, kata Ivan, karena saat ini ekonomi China sudah pulih terlebih dahulu dari efek pandemi Covid-19. Salah satu indikatornya, berdasarkan data Bloomberg, terlihat dari indeks PMI manufacturing pada akhir September berada di 51,5 yang masih masuk dalam teritori ekspansif (>50) sejak bulan Maret. Menurut proyeksi terbaru Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) di bulan September lalu, ekonomi China pada tahun 2020 ini masih dapat tumbuh 1,8% ketika banyak negara yang diproyeksi mengalami kontraksi pada ekonominya.

Baca Juga: 5 Tips Investasi dari Jeff Bezos, Orang Terkaya Dunia Berharta Rp2.777 T

Ivan menjelaskan, di sisi lain, perkembangan penelitian pengembangan vaksin yang menunjukkan ke arah positif memberikan harapan bahwa pandemi ini dapat segera berakhir. Selain itu dengan melimpahnya likuiditas di pasar keuangan akibat dampak pelonggaran kebijakan moneter dan stimulus pemerintah saat ini membuat tingkat volatilitas lebih rendah dibandingkan pada saat awal pandemi. Dengan demikian kondisi saat ini cenderung netral dengan menyeimbangkan porsi di setiap aset kelas tanpa deviasi.

Ivan menyebutkan, untuk investor dengan profil risiko moderate dapat menempatkan investasinya dengan porsi di reksa dana saham 15%, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi 30%, dan reksa dana pasar uang 55%. Investor dengan profil risiko growth dapat menempatkan investasinya dengan porsi di reksa dana saham 60%, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi 20%, dan reksa dana pasar uang 20%.

Untuk nasabah Bank Commonwealth, dapat melihat rekomendasi investasi ini dan juga kini dapat membeli serta melakukan switching portofolio investasi kapan saja dan di mana saja melalui aplikasi Commbank SmartWealth.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini