Aprobi Minta Pemerintah Turun Tangan Atasi Masalah Selisih Harga Biodiesel dengan Solar

Aprobi Minta Pemerintah Turun Tangan Atasi Masalah Selisih Harga Biodiesel dengan Solar Foto: Sufri Yuliardi

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) meminta pemerintah untuk turun tangan mengatasi permasalahan selisih harga indeks (HIP) pasar bahan bakar nabati (BBN)jenis Biodiesel dan HIP bahan bakar minyak (BBM) solar. Pasalnya, hargaBiodiesel saat ini dinilai masih terlalu tinggi untuk masyarakat jika dibandingkan dengan harga solar.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral diketahui telah menetapkan Harga Indeks Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel bulan September 2020 adalah sebesar Rp9.265 per liter ditambah ongkos angkut yang berlaku per 1 Oktober 2020.

Ketua Umum Aprobi, Parulian Tumanggir mengatakan bahwa untuk menggalakan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) Biodiesle oleh masyarakat maka yang harus difokuskan pemerintah adalah masalah biaya.

Baca Juga: Biodiesel Sawit: Hemat Devisa dan Serap CPO Domestik

“Saya kira yang perlu menjadi fokus kita saat ini adalah biaya, kita kalau mau jual fatty acid methyl ester (FAME) ini posisi Rp9.100 padahal pertamina hanya menjual sekitar Rp5.500 sehingga ada perbedaan harga yang begitu besar yaitu sekitar Rp4.000 atau bisa sampai Rp5.000,” ujarnya, dalam acara Webinar Green Energy dengan tema “Strategi dan Peluang Mengelolan BBN berbasis Hidrokaarbon untuk Kemaslahatan Bangsa” yang disleeenggarakan Warta Eekonomi, Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Menurut Parulian, untuk mengatasi besarnya selisih HIP BBN dan HIP Solar  Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) hanya mampu membayar Rp3.250 per liter itu termasuk ongkos angkut dan PPN.“Kalau BPDP uangnya hanya bisa Rp3.000 menutupi ini tadi insentif ini tadi yang Rp2.000 lagi dari mana? Ini pemerintah mungkin harus betul-betul ikut turun tangan, harus turut memikirkan bagaimana sama-sama dengan DPR,” katanya.

Baca Juga: Penyerapan Biodiesel di Semester I-2020: Better than Before

Ia mengungkapkan bahwa jika Biodiesel dijual seharga Rp9.900 per liter tidak akan laku dipasaran. Padahal, ada 17 juta petani sawit yang harus bisa memproduksi 48 juta kilo liter.“Sekarang dari 48 juta kilo liter hanya untuk biodiesel 9,6 juta kilo liter. Nantinya itu 20% sudah diserap oleh biodiesel kita juga mengetahui bahwa pada tahun 2019 Rp43 triliun sudah cadangan devisa kita dihemat,” jelas Parulian.

Untuk itu, Ia kembali menegaskan bahwa pemerintah harus duduk bersama denegan pengusaha, DPR dan petani untuk mengatasi masalah selisih harga biodiesel dengan solar. Karena, uang yang dipungut pengusaha dari hasil ekspor tidak cukup untuk mengatasi masalah selisih harga tersebut.

“Ini haarapan kami dari aprobi sehingga biar jelas ke depan satu pihak kita terus kembangkan tanaman sawit kita terutama melalui kebijakan replanting yang dilakukan pemerintah ini itu cukup baik untuk meningkatkan produksi tanpa memperluas lahan sawit jadi masyarakat terutama petani khususnya sebesar 45% itu betul-betul terbantu. Kita juga berharap agar harga sawit itu jangan lagi jatuh seperti yang terjadi sebelumnya,” pungkas Parulian.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini