Kisah Startup Canva: dari Ruang Tamu, Jadi Unicorn Rp880 Miliar!

Kisah Startup Canva: dari Ruang Tamu, Jadi Unicorn Rp880 Miliar! Foto: Canva

Pernahkah Anda mendengar soal situs Canva? Itu loh, situs yang bisa membantu Anda mendesain undangan, kartu nama, pamflet dengan rancangan (template) profesional.

Situs itu seperti versi dasar dari Photoshop, menawarkan layanan gratis yang bisa membantu pengguna tanpa pengetahuan penyuntingan foto yang luas.

Namun, tahukah Anda kalau Canva merupakan startup di kelas unicorn yang berbasis di Australia?

Baca Juga: Oppo Reno 4F: Spesifikasi dan Kehadiran di Indonesia, Rilis Hari Ini!

Baca Juga: Gegara Sanksi Amerika, Huawei Akui Alami Masa Sulit, Sampai Pengaruhi Update Android di HP-nya!

Kisah di Balik Bisnis Canva

Canva merupakan salah satu perusahaan rintisan yang bernilai 6 miliar dolar AS (sekitar Rp88,34 triliun) setelah menutup putaran pendanaan 60 juta dolar AS (sekitar Rp883,4 miliar) pada Juni 2020.

Layanan itu terbentuk berkat pengalaman CEO Canva, Melanie Perkins ketika masih menjadi mahasiswa. Ia melihat peluang bisnis ketika harus menggunakan perangkat lunak desain yang tak ramah pengguna.

Akhirnya, Perkins memulai bisnis Canva dari ruang tamu di rumah ibunya, memungkinkan pengguna membuat buku tahunan sekolah secara daring. Canva pun resmi meluncur pada 2013.

Berdasarkan informasi yang Warta Ekonomi kutip dari Nikkei Asian Review, Senin (12/10/2020), Canva memiliki sekitar 35 juta pengguna di sekitar 190 negara dan wilayah. Angka penggunanya meroket dari 15 juta pada Mei 2019.

Pengguna yang menggunakan layanan gratis bisa memilih satu dari 8 ribu template yang terbagi ke dalam sejumlah kategori, seperti undangan, resume, dan unggahan Instagram. 

Sementara itu, pengguna yang membayar biaya langganan 9,95 dolar AS (sekitar Rp146,5 ribu) berhak atas 100 ribu template berbayar.

Layanan Meroket di Tengah Pandemi

Permintaan terhadap layanan Canva meroket selama kebijakan penguncian wilayah akibat virus corona. Kepala Operasional Canva, Cliff Obrecht berujar, "mengingat praktik bekerja dari rumah yang kini tersebar luas, pengguna Canva semakin meningkat."

Hal itu juga berkaitan dengan upaya perusahaan pengguna dalam memangkas biaya di tengah situasi tersebut, menurut Canva.

Pasar utama Canva berada di AS, bahkan sudah membuka kantor di Austin, Texas. Perusahaan juga tertarik mengakuisisi bisnis untuk ekspansi lebih lanjut.

"Kami akan terus memantau dan mengevaluasi peluang akuisisi," ujar Obrecht.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini