Debat Babak Kedua Gagal, Trump Untung Apa Buntung?

Debat Babak Kedua Gagal, Trump Untung Apa Buntung? Foto: Antara/REUTERS/Joshua Roberts

Debat capres Amerika Serikat (AS) putaran kedua antara Donald Trump dan Joe Biden resmi dibatalkan. Pembatalan dilakukan karena Trump yang positif Covid-19 menolak format debat virtual yang ditawarkan Komisi Debat Kepresidenan AS. Keputusan ini bikin Trump untung apa buntung ya? 

Komisi Debat sudah mengagendakan debat kedua Trump vs Biden akan digelar 15 Oktober mendatang di Miami, Florida. Namun, format debat kemudian diubah setelah Trump terpapar Corona.

Baca Juga: Trump Positif Covid-19, Debat Capres AS 15 Oktober Dibatalkan

Komisi Debat akhirnya mengusulkan agar debat digelar secara virtual atau tanpa tatap muka secara langsung. Hal ini untuk mencegah terjadinya penularan virus asal Wuhan, China itu. 

Namun, perubahan format debat menjadi virtual ini ditolak Trump. Capres petahana itu ogah kalau berdebat tidak saling ketemu langsung. Menurutnya, debat itu harus ketemu, bukan dari layar monitor.

Kalau digelar secara virtual, Trump juga khawatir lagi asyik debat tibatiba mikrofon dimatikan moderator. Setelah perdebatan selama dua hari, kedua kubu capres tak juga menemukan titik temu. Akhirnya, Komisi Debat memutuskan membatalkan debat capres edisi kedua.

“Sekarang jelas tidak akan ada debat pada 15 Oktober dan kami akan memfokuskan perhatian pada persiapan untuk debat terakhir yang dijadwalkan pada 22 Oktober,” kata komisi Debat, seperti dikutip CNN, kemarin. 

Berarti, Trump dan Biden hanya tinggal 1 kali lagi berdebat pada 22 Oktober, di Universitas Belmont Nashville, Tennessee sebelum waktu pencoblosan 3 November. Tak adanya debat kedua ini juga menjadi sejarah baru sejak 1988, di mana pertanyaan debat datang dari pemilih. 

Apakah keputusan ini menguntungkan bagi Trump? Seperti diketahui, debat perdana antara Trump dan Biden Selasa (6/10/2020) berakhir kacau dan berdampak negatif terhadap Trump. Hal ini jika merujuk kepada survei terbaru nasional NBC News/Wall Street Journal. Dalam survei tersebut, Trump tertinggal dua digit atau tepatnya 14 poin dari Biden. 

Mantan Wakil Barack Obama itu memimpin 53 persen berbanding 39 persen. Jajak pendapat yang sama sebelum debat memberikan keunggulan 51 persen berbanding 43 persen kepada Biden. Ini adalah keunggulan terbesarnya di survei ini sejak dia mencapreskan diri April 2019 lalu.

Pemilih juga memilih Biden sebagai pemenang debat dengan perbandingan 2:1, yaitu 49 persen menyatakan politisi kawakan berusia 77 tahun itu menang dan hanya 24 persen yang menyebut Trump menang. Sisanya 17 persen menjawab tidak ada yang menang. 

Sementara itu, dalam sebuah polling yang dilakukan Reuters, elektabilitas Trump anjlok usai dirinya dinyatakan positif Corona. Hal itu disebabkan lantaran warga AS kecewa karena Trump terlalu menganggap remeh virus Corona. 

Dengan sekitar beberapa pekan sebelum waktu pemilihan, Biden telah mempertahankan keuntungan awal dalam mengamankan suara rakyat secara nasional.

Tetapi untuk memenangkan kursi kepresidenan, seorang kandidat harus menang di negara bagian yang cukup untuk memenangkan Electoral College. Dan jajak pendapat negara bagian menunjukkan bahwa Trump hampir sepopuler Biden di negara bagian yang menjadi medan pertempuran. 

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini