Gimana Prospek Kinerja Garuda saat PSBB, Pembukaan Umrah, dan Rencana Suntikan Modal oleh Negara?

Gimana Prospek Kinerja Garuda saat PSBB, Pembukaan Umrah, dan Rencana Suntikan Modal oleh Negara? Foto: Antara/Ampelsa

Pada bulan Agustus 2020, kinerja operasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) memang meningkat secara signifikan karena masyarakat terbiasa dengan batasan sosial selama masa transisi PSBB didukung oleh strategi pemasaran yang efisien dan dukungan Pemerintah.

Jumlah penumpang yang diangkut , revenue passenger kilometres (RPK), availability seat kilometres (ASK), dan kargo yang diangkut masing-masing meningkat sebesar 55.2%, 39.3%, 24.3%, dan 6.1% secara month to month.

“Pemulihan tersebut didorong oleh permintaan domestik. Namun, angka tersebut adalah sekitar 15-61% dari pencapaian delapan bulan di 2019, yang menunjukkan bahwa perjalanan GIAA masih panjang,” kata Analis Mirae Sekuritas, Lee Young Jun, di Jakarta, Jumat (9/10/2020). 

Baca Juga: Garuda Indonesia Tawarkan Diskon Tiket hingga 45%

Pasalnya, PSBB sesi kedua yang diberlakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berpotensi kembali menurunkan pendapatan maskapai penerbangan milik negara ini ke depan.

Masalah lain yang dihaddapi perseroan yakni belum adanya kepastian teerkait deengan suntikan modal yang rencananya akan dilakukan oleh pemerintah.

Sementara itu, langkah Arab Saudi (SA) yang kembali mengizinkan warganya dan jemaah haji lainnya untuk menunaikan umrah tahunan mulai 4 Oktober 2020 berpotensi meningkatkan pendapatan perseroan.

Baca Juga: Alamak! Ketika Utang Udah Segede Gaban, Garuda Pinjam Uang Lagi Sampai Triliunan!

“Namun, menurut kami pendapatan semester II 2020 akan tetap lesu karena kasus baru COVID-19 tetap dalam tren yang meningkat dan pemerintah telah menerapkan kembali PSBB. Meskipun kami telah menyaksikan bagaimana perilaku konsumen berangsur-angsur kembali, hal itu akan terus tertekan di kuartal IV mengingat adanya batasan sosial,” ucapnya.

Untuk itu, pihaknya masih merekomendasikan para investor untuk mengambil aksi jual denegan target harga Rp146 per saham.“Secara keseluruhan, kami mempertahankan rekomendasi Jual kami di GIAA dengan target harga Rp146 per saham. Harga target kami diturunkan menggunakan kelipatan target 0,2x P / S. Risiko negatif dari panggilan kami adalah meredanya jumlah kasus baru serta harga bahan bakar yang rendah,” tutupnya.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini