Pandemi Picu Percepatan Digitalisasi Pasar

Pandemi Picu Percepatan Digitalisasi Pasar Foto: Boyke P. Siregar

Pasar tradisional menjadi wilayah yang paling rentan terhadap penularan Covid-19. Oleh karena itu, Gerakan Pakai Masker (GPM) fokus menjadikan pasar sebagai salah satu khalayak sasar dalam edukasi dan sosialisasi penggunaan masker.

Selain itu, GPM juga menaruh perhatian pada keberlangsungan perkembangan pasar tradisional di era pandemi terkait dengan program digitalisasi. Ketua Umum GPM, Sigit Pramono, mengatakan bahwa pihaknya berinisiatif fokus pada kegiatan kemanusiaan untuk melaksanakan edukasi maupun sosialisasi gerakan tertib memakai masker kepada masyarakat.

Baca Juga: Optimalisasi Perlindungan Covid-19, Masker Ikut Distandardisasi

Hal ini merupakan upaya minimal yang bisa dilakukan masyarakat untuk menekan penyebaran Covid-19. "Dengan disiplin menggunakan masker, masyarakat dapat menekan angka penyebaran penularan virus hingga 75%. Jika langkah itu diikuti dengan disiplin menjaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, penyebaran penularan dapat ditekan hingga 90%," kata Sigit dalam Webinar bertemakan "Digitalisasi Pasar Rakyat di Masa Pandemi Covid-19" pada Selasa (29/9/2020).

Webinar terselenggara atas kolaborasi GPM dengan BNI, Adira Finance, Perbarindo, dan Asparindo. Sigit mengatakan bahwa penyebaran virus corona saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Karena itulah, perlu upaya bersama agar dapat menangani isu kesehatan dan juga menyelamatkan nyawa ekonomi.

Per tanggal 22 September 2020, korban meninggal akibat Covid-19 di Indonesia sudah mencapai angka 9.677 orang. Sigit menambahkan, menurut ahli, pandemi Covid-19 telah mendorong berkembangnya empat perilaku konsumen, yaitu munculnya solidaritas sosial, digitalisasi (go virtual), kecenderungan bekerja dari rumah, dan masyarakat yang akan fokus untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Perubahan perilaku konsumen yang bekerja dari rumah dan berkembangnya sistem digital itu nantinya akan memunculkan sistem perekonomian baru, yaitu low touch economy. Di mana interaksi langsung/kontak fisik akan berkurang. Dengan demikian, akan timbul kebiasaan baru yaitu cashless society, di mana masyarakat mengurangi penggunaan uang tunai dalam bertransaksi.

"Pelaku usaha harus siap dengan keadaan ini. Semua bisnis harus menuju ke arah digital, baik pelaku pasar rakyat, perbankan, maupun bisnis lain," ujar Sigit.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) Y. Joko Setiyanto menekankan bahwa para pelaku pasar telah menyadari pentingnya proses digitalisasi untuk kegiatan di pasar dan saat ini merupakan keharusan melaksanakannya. Salah satu buktinya adalah telah disiapkan satu platform digital untuk pasar yang dikenal dengan Pazza.

Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto mengungkapkan, sudah lebih dari 50% pemilik rekening BPR adalah pelaku pasar.

Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia, Sis Apik, menyebutkan bahwa beberapa pasar telah menggunakan sistem pembayaran secara elektronik, yaitu menggunakan layanan fintech dan kartu elektronik. BNI merupakan salah satu pelopor penyedia kartu elektronik Tapcash.

"Setelah sistem pembayarannya siap, pelaku pasar harus membangun digital ekosistem, seperti yang sekarang ini sudah ada aplikasinya seperti sayurbox. Ke depan, semua pelaku pasar harus dibangun ke arah itu. Selain mengurangi sentuhan fisik dan jaga jarak, menggunakan aplikasi ini lebih aman dan efisien, lebih mudah dikontrol, serta meminimalkan tindakan kriminal," ujar Apik.

Ekonom Senior Indef Aviliani mengatakan, pandemi mempercepat transformasi di seluruh bidang, begitu pula dengan pasar. Pasar akan mengalami distorsi yang besar, kebiasaan digitalisasi tidak akan berubah setelah pandemi berlalu. Hal ini karena masyarakat lebih cerdas, mendahulukan keamanan dan kenyamanan.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini