Dibantu IMF, Wuhan Berani Tebar Harapan pada Dunia di Tengah Pandemi

Dibantu IMF, Wuhan Berani Tebar Harapan pada Dunia di Tengah Pandemi Foto: Reuters/Jason Lee

Jumlah kematian global akibat Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19, terus bertambah. Awal pekan ini, tercatat kematian telah mencapai 1 juta jiwa. Selain itu, pandemi juga mengakibatkan krisis ekonomi, hingga ketegangan politik global.

Tak ada satu pun tempat yang tidak terdampak virus itu. Mulai dari daerah kumuh di India. Hutan di Brazil. Hingga kawasan megapolitan New York, di Amerika Serikat. Olahraga, hiburan, dan perjalanan internasional terhenti.

Baca Juga: IMF Sebut Ekonomi Dunia Mulai Membaik tapi...

Masyarakat harus tetap berada di rumah demi mencegah penyebaran virus tersebut. Demi pencegahan itu juga, sekitar 4 miliar penduduk bumi, harus merasakan berada dalam karantina wilayah, alias lockdown.

Kebijakan itu, berhasil memperlambat penyebaran virus. Tapi, relaksasi yang dilakukan sejumlah negara, membuat penyebaran dan penularan Covid-19 kembali meningkat.

Dikutip Channel News Asia, hingga kemarin, korban meninggal akibat penyakit itu mencapai 1.000.009. Dari sekitar 33.018.877 orang yang terinfeksi. AS memiliki jumlah kematian tertinggi. Dengan lebih dari 200 ribu. Disusul kemudian Brazil, India, Meksiko, dan Inggris.

Dampak dari virus itu dirasakan betul oleh Carlo Chiodi. Dia harus kehilangan kedua orang tuanya akibat penyakit itu. Dia masih sulit menerima yang terjadi. Terlebih, saat hanya bisa melihat ayahnya keluar dari rumah, lalu dibawa ambulans. Dan dia cuma bisa mengucapkan 'selamat tinggal'.

Chiodi menyesal tidak mengatakan, 'saya mencintaimu'. Dia juga menyesal tidak sempat memeluk orang tuanya. "Dan itu masih menyakitkan bagi saya," ucap Chiodi.

Di saat para ilmuwan masih berlomba menemukan vaksin yang ampuh, sejumlah negara kembali dipaksa untuk melakukan pilihan yang sulit. Mengendalikan virus dan memperlambat penyebaran virus. Tapi di saat yang sama, ekonomi dan bisnis ambruk.

Dana Moneter Internasional (IMF), awal tahun ini memperingatkan bahwa pergolakan ekonomi dapat menyebabkan krisis yang berbeda. Soalnya, produk domestik bruto dunia runtuh.

Eropa, yang terpukul gelombang pertama pandemi, sekarang menghadapi lonjakan kasus lain. Paris, London dan Madrid sudah melakukan pembatasan aktivitas warganya. Agar rumah sakit tidak kolaps.

Masker, pembatasan jarak, baik di toko, kafe, hingga transportasi umum kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak kota. Pertengahan September, terjadi peningkatan kasus positif Covid-19 di sebagian besar wilayah.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini