Azerbaijan Vs Armenia, Yerevan Mulai Dekati Iran dan AS

Azerbaijan Vs Armenia, Yerevan Mulai Dekati Iran dan AS Foto: Reuters/Melik Baghdasaryan

Perang antara pasukan bersenjata Azerbaijan dan Armenia kembali pecah di perbatasan Nagorno-Karabakh. Keteganan antar negara tetangga itu terjadi pada hari Minggu waktu setempat, setelah Tentara Azerbaijan melakukan mobilisasi pasukan besar-besaran dan melakukan serangan balik kepada pasukan militer Armenia atas serangan yang terjadi pada 16 September 2020 lalu. 

Belum diketahui secara pasti berapa jumlah korban jiwa atas konflik yang terjadi sejak tahun 90an itu. 

Baca Juga: Mengupas Kekuatan Angkatan Perang Armenia dan Azerbaijan, Menang Mana?

Menyikapi perang tersebut, Menteri Luar Negeri Armenia, Zohrab Mnatsakanyan menghubungi Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Stephen Biegun melalui sambungan seluler pada hari Minggu kemarin. 

Keduanya membahas situasi terkini di Nagorno-Karabakh. Meskipun tidak dijelaskan secara rinci apa isi percakapan kedua petinggi negara itu, diduga kuat Armenia meminta dukungan kepada Amerika Serikat (AS) untuk menghadapi Azerbaijan yang didukung penuh oleh kekuatan pasukan Turki.

Tidak hanya itu, dikutip dari Sputnik News, Senin (28/9/2020), Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan tidak hanya meminta dukungan dari AS saja. Dia juga dikabarkan telah menghubungi Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Kanada, Francois-Philippe Champagne, dan Menteri Luar Negeri Yunani, Nikos Dendias.

Menlu Iran, Zarif menyatakan keprihatinannya atas konflik antara Azerbaijan dan Armenia tersebut. Zarif berharap kedua belah pihak dapat duduk bersama ketimbang memilih jalan konfrontasi untuk menyelesaikan persoalan di Nagorno-Karabakh.

"Iran siap menjadi mediator pembicaraan antara Armenia dan Azerbaijan," kata Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif.

Sementara itu, salah satu kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden menyatakan keprihatinannya atas konflik di Nagorno-Karabakh tersebut. 

Menurutnya, eskalasi permusuhan tersebut dapat menyebabkan konflik regional yang lebih besar. Dia juga meminta pihak ketiga untuk terlibat sementara Group Minsk mencoba untuk membawa dua negara yang berkonflik untuk duduk bersama di meja perundingan.

"Pemerintahan Trump juga perlu meningkatkan upaya diplomatiknya, bersama dengan sesama OSCE (Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa) Grup Minsk bersama-sama memimpin Prancis dan Rusia, untuk mencari resolusi damai dan untuk mendukung langkah-langkah pembangunan kepercayaan," kata Joe Biden.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, konflik antara pasukan militer Azerbaijan dan Armenia di perbatasan Nagorno-Karabakh sepanjang bulan September ini telah menewaskan lebih dari 20 jiwa, yang terdiri dari 16 orang prajurit militer Azerbaijan dan 7 orang lainnya diketahui sebagai warga sipil yang tewas karena serangan pasukan Armenia di desa Gashalty.

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini